Top
Indonesian Blogger Community

Tarian Aceh

Tarian Aceh.

3 Tarian Daerah Aceh Paling Terkenal: Sejarah, Makna, dan Arti Gerakannya

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Aceh, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki status istimewa.

Bahkan, nama resmi provinsi ini pun terkesan unik karena terdiri atas kombinasi bahasa Aceh dan juga bahasa Arab.

Kata “Nanggroe” berasal dari bahasa Aceh yang artinya “daerah” atau “negeri,” sementara kata “darussalam” berasal dari bahasa Arab yang berarti “rumah (yang) damai” atau “rumah (yang) sejahtera.”

Jika diartikan, nama Nanggroe Aceh Darussalam bisa bermakna “Negeri Aceh yang Damai/Sejahtera.”

Pada tahun 2001 Aceh secara resmi mendapatkan status otonomi khusus yang tertuang dalam UU No. 18 Tahun 2001. 

Dengan otonomi ini, Aceh memiliki otoritas yang lebih besar untuk mengelola urusan pemerintahannya sendiri. Termasuk wewenang untuk menerapkan hukum Islam serta mengatur kebudayaan di wilayah tersebut.

Aceh memiliki julukan “Serambi Mekah” karena pada zaman dahulu, Aceh selalu menjadi tempat persinggahan para jamaah sebelum berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. 

Di samping itu, julukan ini juga berkaitan dengan pengaruh agama dan kebudayaan Islam yang begitu besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.

Kebudayaan Islam memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.

Hal ini tergambar jelas pada budaya dan berbagai kesenian daerah Aceh yang sarat akan nilai-nilai Islami. Seperti halnya 3 tarian tradisional Aceh berikut ini.

3 Tarian Tradisional Aceh yang Terkenal

Tari tradisional daerah Aceh sebenarnya sangat banyak. Mulai dari tari saman, tari seudati, tari laweut, tari rapa’i geurim pheng, tari tarek pukat, tari binih, tari malelang, tari laweut, tari ratoh jaroe, tari ratoh duek, dan masih banyak yang lainnya.

Namun, tanpa bermaksud mengecilkan tarian khas daerah Aceh lainnya, berikut adalah 3 tarian Aceh yang menurut kami sangat terkenal, sering dipentaskan, dan mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi.

1. Tari Saman

Tari saman merupakan tari khas Aceh yang paling populer diantara tari-tari lainnya.

Saking terkenalnya, tari saman sering dianggap sebagai salah satu warisan budaya terpenting di Indonesia, khususnya di Nangroe Aceh Darussalam. Dan, telah ditetapkan sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 24 November 2011 lalu.

Tari saman kerap dipentaskan dalam berbagai acara berskala nasional maupun internasional.

Termasuk pada acara-acara keagamaan semisal Maulid Nabi (kelahiran Nabi Muhammad SAW), upacara adat Aceh, serta festival budaya.

Tari saman yang merupakan tarian tradisional khas Aceh ini berasal dari suku Gayo (Aceh).

Ciri khas tari saman sangat unik dan mudah dikenali karena dilakukan dalam posisi duduk, memiliki gerakan yang cepat, bersifat ritmis, dan disertai dengan nyanyian serta tepuk tangan yang khas.

Pada umumnya, tari saman ditampilkan oleh sekelompok penari pria atau wanita yang membentuk barisan.

Ciri khas utama tari saman terletak pada gerakan tangan, lengan, dan kepala yang sangat cepat dan akurat, diiringi nyanyian yang diselingi tepuk tangan untuk membentuk pola khusus yang harmonis serta untuk menciptakan irama yang khas.

Nyanyian pada tari saman menggunakan bahasa Gayo dan dinyanyikan oleh para penari. Nyanyian-nyanyian yang dilantunkan oleh para penari berisi syair-syair yang (umumnya) terkait dengan nilai-nilai agama, budaya, ataupun tradisi masyarakat Aceh.

Menurut beberapa sumber sejarah, tari saman diciptakan oleh seorang ulama dari Gayo yang bernama Syekh Saman.

Beliau menciptakan tari ini sebagai media untuk berdakwah atau menyampaikan pesan-pesan yang kaya akan nilai-nilai agamis, sopan santun, kebersamaan atau gotong royong, kekompakan, serta kepahlawanan.

2. Tari Seudati

Tari seudati merupakan tari tradisional Aceh lainnya yang terkenal, tidak hanya di wilayah Indonesia tapi juga hingga ke mancanegara.

Beberapa catatan menunjukkan bahwa tari seudati diprakarsai oleh seorang syekh bernama Syekh Tam di wilayah pesisir, atau lebih tepatnya di Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

Ada sejumlah pendapat mengenai asal usul kata “seudati” yang digunakan untuk menyebut tarian khas Aceh ini. Salah satunya mengatakan bahwa kata “Seudati” berasal dari Bahasa Arab yaitu “syahadati” atau “syahadatain” yang berarti “dua kalimat syahadat.”

Pendapat ini dikuatkan oleh fakta yang menunjukkan bahwa, selain digunakan sebagai tarian untuk menghibur masyarakat, tarian seudati juga kerap dipertunjukkan sebagai sarana dakwah untuk menyebarkan agama Islam.

Meski demikian, tari seudati sendiri kerap dikategorikan sebagai jenis tarian perang (tribal war dance) karena mengangkat lirik-lirik (syair) yang bersifat membangkitkan semangat.

Tidak jauh berbeda dengan tari saman, tari seudati juga dibawakan oleh sekelompok penari yang biasanya berjumlah genap, terdiri atas 6 atau 8 orang penari pria.

Uniknya, 8 orang penari akan melakoni jabatan atau peran yang berbeda-beda selama pertunjukkan. Seperti misalnya,

  1. Pemimpin (Syekh)
  2. Wakil (Apet)
  3. Anggota ahli (Apet bak)
  4. Anggota ahli (Apet sak)
  5. Anggota biasa (Apet neun)
  6. Anggota biasa (Apet wie)
  7. Anggota biasa (Apet wie abeh), dan
  8. Anggota biasa (Apet neun abeh)

Busana (kostum) yang digunakan oleh para penari biasanya berupa, celana panjang dan kaos oblong berwarna putih dengan hiasan kain songket yang dililitkan di bagian pinggang (dengan panjang sebatas paha).

Untuk aksesorisnya, para penari umumnya akan mengenakan ikat kepala berwarna merah yang disebut tangkulok, dan sapu tangan, serta rencong yang diselipkan di bagian pinggang.

Tari seudati umumnya dipentaskan pada acara-acara seperti, acara adat Aceh, perayaan agama, dan juga pentas budaya.

Tari seudati juga kerap dilombakan karena tari ini bisa di kembangkan dengan memasukkan berbagai unsur variasi gerakan.

Setiap gerakan pada tari ini memiliki ciri khas atau karakteristik yang unik sehingga, setiap gerakan bisa dibagi menjadi 8 babak.

  1. Babak pertama disebut babak glong, kemudian
  2. Babak kedua disebut saleum
  3. Babak selanjutnya disebut likok. Lalu diikuti babak selanjutnya yaitu, babak
  4. Saman
  5. Kisah
  6. Cahi panyang
  7. Lanie, dan yang terakhir adalah babak
  8. Penutup

3. Tari Ratoh Jaroe

Tari ratoh jaroe adalah tarian tradisional Aceh yang gerakannya menggambarkan kondisi keseharian hidup masyarakat Aceh yang kompak, serasi, dan suka saling bahu-membahu (gotong-royong) dalam berbagai kegiatan sehari-hari.

Nama tari ratoh jaroe berasal dari bahasa Aceh yang terdiri atas kata “ratoh” yang berarti “berkata” atau “berbincang,” dan “jaroe” yang berarti “jari tangan”.

Jadi, “ratoh jaroe” bisa diartikan sebagai tarian dengan lantunan syair (berisi kisah-kisah) yang diiringi gerakan (jari) tangan.

Image: suaramerdeka.com

Gerakan tari ratoh jaroe sangat mirip dengan gerakan tari saman. Begitu juga dengan gerakan dasarnya yang dilakukan dalam posisi duduk sejajar sambil membuat gerakan tangan, badan dan juga kepala.

Pada umumnya, tari ratoh jaroe dibawakan oleh 9 orang penari perempuan. Meski demikian, tidak ada batasan maksimal untuk jumlah penari yang bisa membawakan tarian tradisional khas Aceh ini.

Tidak jauh berbeda dengan tari saman dan juga tari seudati, tari ratoh jaroe juga merupakan tari yang bernafaskan Islam dan kerap digunakan sebagai media dakwah.

Terutama untuk menyampaikan pesan-pesan bernuansa Islam. Sebab, baik gerakan maupun syair-syair yang dilantunkan, semuanya bernuansa Islami.

Tarian Aceh

Aceh memiliki banyak tarian tradisional yang populer dan tidak hanya terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, tapi juga banyak dikenal oleh masyarakat dari mancanegara.

Diantara sekian banyak tarian daerah Aceh yang terkenal, 3 diantaranya adalah tari ratoh jaroe, tari seudati, dan tari saman.

Berbagai tarian tradisional Aceh ini terus mengalami perkembangan dan masih dilestarikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Salah satu tujuannya adalah sebagai pengenal identitas budaya masyarakat Aceh yang kental dengan nuansa Islam dan budaya lokal.

Berbagai gerakan dan syair atau nyanyian yang dibawakan dalam tarian-tarian khas Aceh, sebagian besar mengandung nilai-nilai moral, religi, budaya, dan juga edukasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lena

I'm in love with my website.  Still can't believe how gorgeous it looks and I was able to do it all by myself.  Your designs and customer support truly can not be beat.  Your awesome and I tell everyone I know looking for a site about your gorgeous themes.

Amanda

Holy Cow does my new site look AWESOME!  My traffic has doubled since going live and all my readers love the new site.  I get so many compliments on how pretty it is.  The best is that people think I spent a fortune to have it designed.

Anabelle

Thank you for everything you did to help me get my site up and running.  Being new to wordpress your video tutorials really helped.  Love that you provide support and that I can actually get in contact with you when I have questions.

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No feed found.

Please go to the Instagram Feed settings page to create a feed.

error: Content is protected !!