Top
Indonesian Blogger Community

Tarian Daerah

Tarian Daerah 38 Provinsi di Indonesia.

Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya yang unik.

Keanekaragaman etnis, suku, agama atau kepercayaan, keragaman geografi (landscape) dan iklim, serta sejarah hingga pendidikan, melahirkan berbagai karya seni musik, arsitektur, kuliner, hingga tarian.

Berbicara tentang seni budaya tari, berbagai macam tarian daerah di Indonesia tidak hanya hadir dengan gerakan-gerakan yang unik, tapi juga memiliki filosofi serta makna yang sangat beragam dan mendalam.

Tarian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia kebanyakan menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakatnya, kepercayaan atau agama yang dianut, mitologi, kisah, hingga nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Ada ratusan tarian tradisional daerah di Indonesia yang masih terus dilestarikan hingga saat ini.

Pelestarian budaya tari tradisional daerah, selain bertujuan untuk menjaga identitas bangsa, juga kerap ditujukan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan antar anak bangsa, serta untuk memperkuat jati diri bangsa Indonesia yang kaya akan budaya.

Di samping, tarian daerah juga bermanfaat bagi perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pasalnya, seni budaya ini bisa dimanfaatkan untuk membuka peluang bagi masyarakat, khususnya para penari dan seniman, mengembangkan industri kreatif dan mendapatkan penghasilan.

 Tarian Daerah 38 Provinsi: Sejarah, dan Makna 

Daftar Isi show

Agar bisa ikut melestarikan budaya tarian tradisional (tarian daerah) di Indonesia, maka kita perlu mengenal satu persatu daftar tarian daerah tersebut. Berikut daftar tari daerah paling terkenal, sejarah, dan juga makna serta filosofi yang terkandung di dalamnya dari 38 provinsi.

 1. Nanggroe Aceh Darussalam 

Nanggroe Aceh Darussalam adalah salah satu provinsi di Indonesia yang punya status istimewa.

Daerah yang lebih dikenal dengan sebutan Aceh ini memiliki puluhan tarian daerah.

Beberapa diantaranya sangat terkenal. Seperti tari saman, tari ratoh duek, tari seudati, tari meuseukat, tari likok pulo, tari rapa’i geleng, hingga tari tarek pukat.

Tarian daerah Aceh memiliki ciri khas yang dinamis dan penggunaan kostum warna-warni yang mencolok serta iringan musik khas Aceh seperti musik rapai.

Budaya tari tradisional di Aceh sebagian besar dipengaruhi oleh letak geografis Aceh yang menjadi pusat perdagangan dan juga pertukaran budaya dari berbagai negara seperti Arab dan India.

Serta, dipengaruhi juga oleh nilai-nilai adat istiadat dan agama Islam sebagai agama mayoritas di Aceh.

Berikut adalah beberapa tarian daerah Aceh yang paling terkenal beserta sejarah dan filosofinya.

a. Tarian Daerah Aceh: Tari Saman

Tari saman merupakan salah satu tarian daerah di Indonesia yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO (sejak tahun 2011).

Tari saman berasal dari suku Gayo. Karena itulah, syair-syair yang dibawakan oleh para penari selalu menggunakan bahasa Gayo.

Tarian tradisional terkenal dari Aceh ini menurut sejarah diciptakan sebagai media dalam menyebarkan dan memperkenalkan ajaran agama Islam oleh seorang ulama bernama Syekh Saman.

Karena itulah, tari saman sangat mencerminkan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kekompakan, kepahlawanan, dan kebersamaan.

Tari saman dibawakan dalam posisi duduk. Gerakannya didominasi gerakan tepuk tangan yang cepat dan sinkron, serta gerakan-gerakan lainnya seperti gerak guncang, kirep, lingang, dan surang-saring.

Tari saman kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat dan keagamaan seperti perayaan Maulid Nabi (kelahiran Nabi Muhammad SAW). Di era modern, tari saman juga sering ditampilkan di festival budaya dan berbagai event seni pertunjukan.

b. Tarian Daerah Aceh: Tari Seudati

Tari seudati berkembang di daerah pesisir Aceh pada abad ke-16. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tarian khas Aceh ini pada awalnya berasal dari tari ratih atau ratoh.

Tari ratih sendiri merupakan tarian yang sering dipentaskan untuk mengawali lomba sabung ayam, menyambut panen, dan bulan purnama. Namun, setelah masyarakat Aceh mulai memeluk agama Islam, terbentuklah tarian seudati. Asal muasal nama tarian seudati disebut-sebut berasal dari kata “syahadatain” yang berarti “dua kalimat syahadat.”

Tari Seudati memiliki beberapa fungsi dalam masyarakat Aceh. Pertama, tari seudati berfungsi sebagai penyemangat, menginspirasi perjuangan, dan membangkitkan semangat masyarakat, terutama kaum pemuda, dalam melawan penjajah Belanda.

Selain itu, tarian ini juga kerap digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui syair yang mengandung pesan moral. Fungsi lainnya adalah sebagai sarana dakwah dan penyebaran agama Islam, media pendidikan, sekaligus hiburan bagi masyarakat Aceh.

c. Tarian Daerah Aceh: Tari Ratéb Meuseukat

Kesenian Aceh memiliki ciri khas keislaman yang kuat. Hal ini disebabkan oleh pengaruh (agama) Islam yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat Aceh. Sejak masa lampau hingga kini, ajaran Islam dianggap sebagai nilai terpenting dan memiliki pengaruh yang besar dalam budaya Aceh.

Hal tersebut bisa kita lihat dengan jelas pada berbagai seni-budaya Aceh seperti tari ratéb meuseukat yang kental dengan nuansa Islam.

Tari tradisional Aceh ini berasal dari Kabupaten Nagan Raya dan diciptakan oleh seorang ulama bernama Teuku Muhammad Thaib, yang memimpin pusat pendidikan agama di Gampong

Nama tari “rateb meuseukat” berasal dari bahasa Arab, di mana kata “rateb” berarti “ibadah,” dan “meuseukat” berarti “diam.” Nama tarian ini mencerminkan kondisi penari yang tampaknya diam meski tangannya bergerak-gerak dengan indah.

d. Tarian Daerah Aceh: Tari Ratoh Jaroe

Tarian ratoh jaroe termasuk tarian daerah Aceh modern karena tercipta pasca bencana gempa dan tsunami pada tahun 2004 silam. Disebutkan bahwa, tarian ini diciptakan untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat Aceh yang terpuruk dan mengalami trauma akibat bencana tahun 2014 tersebut.

Tari ratoh jaroe terlahir dari pengembangan tari-tari tradisional Aceh lainnya seperti, tari ratoh duek, tari saman, tari rateb meuseukat, tari rapai geleng, dan tari likok pulo. Karena itulah, baik gerakan maupun kostum yang digunakan oleh para penari ratoh jaroe sangat mirip dengan berbagai tari tradisional tersebut.

Nama tari ini berasal bahasa Aceh. Kata ratoh berarti “berbincang” atau “berkata-kata,” dan kata jaroe berarti “jari tangan.” Mengapa dinamakan demikian?

Pada dasarnya, pertunjukan tari ratoh jaroe selain dipertunjukkan untuk menghibur dan mengembalikan semangat masyarakat, juga digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan, memberikan edukasi, dan menyebarkan nilai-nilai khas Aceh seperti kekompakan dan gotong-royong.

Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui syair yang dinyanyikan oleh penari dan pemusik. Karena itulah, secara harfiah, ratoh jaroe bisa diartikan sebagai tarian untuk menyampaikan cerita atau syair dengan gerakan tangan.

Di era modern ini, tari ratoh jaroe kerap ditampilkan dalam festival budaya, pertunjukan seni, dan acara-acara resmi seperti seminar, wisuda kelulusan, hingga rapat kerja.

 2. Sumatera Utara 

Sumatera Utara (Sumut) secara geografis memang berbatasan langsung dengan Aceh. Meski bertetangga, namun ada banyak perbedaan dalam hal adat-istiadat maupun budaya antar kedua daerah ini.

Keragaman etnis dan suku bangsa di Sumut membuat budaya yang ada di wilayah ini terasa sangat kaya dan beragam. Khusus untuk tarian daerah, pengaruh keragaman suku bagsa seperti suku Batak, Karo, Mandailing, Nias, dan Melayu, sangat terasa dalam filosofi dan gerakan-gerakan tarian daerah Sumatera Utara.

Perbedaan ini bisa dilihat dari sejumlah tarian tradisional yang terkenal dari Sumatera Utara seperti tari tor-tor, sigale-gale, serampang 12, hingga tari piring yang makna, sejarah, dan filosofinya akan kami uraikan di bawah ini.

a. Tari Tor-Tor

Kebanyakan tarian tradisional Sumatera Utara merupakan bagian integral dari upacara adat, perayaan, dan ritual keagamaan masyarakat setempat. Pasalnya, baik nyanyian maupun tarian dan juga musik kerap mengandung makna filosofi yang mendalam, disamping berperan sebagai penjaga warisan tradisi leluhur masyarakat Sumut.

Salah satu contoh tarian daerah Sumatera Utara yang dianggap sakral dan (dulunya) hanya boleh dipertunjukkan saat acara keagamaan atau upacara adat (seperti upacara kematian dan penyembuhan) adalah tari tor-tor. Asal-muasal nama (tari) “tor-tor” sendiri berasal dari bunyi hentakan kaki para penari di atas papan rumah adat Batak.

Konon, tari tor-tor sudah ada sejak abad ke-13. Tarian tradisional dari suku Batak di Sumatera Utara ini merupakan tarian seremonial yang digunakan sebagai persembahan bagi roh leluhur. Dan juga, sebagai media untuk menyampaikan doa serta harapan kepada Tuhan. Namun di arah modern, tari tor-tor tidak hanya dipertunjukkan pada upacara tertentu saja, melainkan digelar juga di berbagai kesempatan sebagai pertunjukan hiburan atau tontonan bagi masyarakat luas.

Tortor memiliki beberapa jenis dan fungsi atau kegunaan. 

  1. Tari tor tor pangurason yang digunakan membersihkan tempat acara dari bahaya dan bencana
  2. Tari tor-tor sipitu cawan umumnya dipentaskan pada upacara penobatan atau pengangkatan Raja Batak; Dan,
  3. Tari tor tor tunggal panaluan adalah jenis tarian tortor yang diselenggarakan sebagai ritual suatu daerah dilanda bencana

Setiap gerakan pada tari tor-tor memiliki makna simbolis. Meski demikian, gerakan tari tor-tor sebenarnya sangatlah sederhana. Bahkan orang yang baru pertama kali melihatnya mungkin saja langsung bisa mempraktekkan gerakan-gerakan tari tor-tor saking sederhananya.

Tari tor-tor terdiri atas 5 gerakan. Berturut-turut disebut, gerak pangurdot, pangeal, pandenggal, siangkupna, dan gerakan haunanna.

b. Tari Sigale-Gale

Tari sigale-gale adalah tarian tradisional suku Batak di Samosir, Sumatera Utara, yang diciptakan sekitar 500 tahun yang lalu. 

Dalam bahasa Batak, “sigale-gale” berarti lemah gemulai. Penyebutan nama tari ini berasal dari pertunjukan boneka kayu yang digerakkan oleh manusia sehingga bisa menari-nari layaknya manusia hidup.

Sigale-gale sendiri berwujud boneka anak laki-laki yang dipahat menyerupai manusia lalu diberi pakaian adat suku Batak (kain ulos).

Tarian ini terkait dengan upacara kematian, dengan gerakan khas menutup telapak tangan ke dada dan digerakkan naik turun ke depan.

Gerakan tari sigale-gale sangat sederhana dan khas yaitu, menutup kedua telapak tangan ke arah dada kemudian bergerak naik turun ke depan secara berulang-ulang.

c. Tari Serampang 12

Tari serampang 12 (XII) adalah tarian tradisional khas Sumatera Utara yang berasal dari Kabupaten Deli Serdang. Tarian ini diciptakan pada abad ke-20 atau tepatnya pada tahun 1950-an oleh guru Sauti.

Sebelum dikenal dengan sebutan tari serampang 12, tarian ini bernama tari pulau sari sesuai dengan judul lagu yang digunakan untuk mengiringi tarian ini.

Tari Serampang 12 merupakan tarian khas daerah Sumatera Utara yang mendapat pengaruh suku Melayu. Tarian ini umumnya dibawakan oleh beberapa pasang penari karena memang, tarian ini menggambarkan kisah cinta antara sepasang manusia hingga ke jenjang pernikahan.

d. Tari Piring

Sesuai dengan namanya, tari tradisional yang berasal dari Minangkabau ini menampilkan atraksi menari sambil mengayunkan piring di kedua tangan dengan gerakan yang sangat cepat dan teratur.

Pada awalnya, tari piring merupakan tari ritual sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Sekarang, tari piring masih sering dipertunjukkan pada berbagai pagelaran seni dan berbagai acara seperti, acara peresmian, upacara adat, hingga penyambutan tamu.

 3. Sumatera Selatan 

Sumatera Selatan terletak di bagian selatan Pulau Sumatera. Wilayah ini terkenal kaya akan warisan budaya seperti tarian tradisional. Tarian-tarian tradisional di Sumatera Selatan kerap dipentaskan dalam festival budaya, upacara adat, dan pernikahan, untuk memperlihatkan keberagaman dan keindahan tradisi budaya Sumatera Selatan.

Sejumlah tarian tradisional daerah Sumatera Selatan yang terkenal diantaranya adalah, tari gending sriwijaya, mare-mare, ngantat dendan, hingga tari tanggai.

a. Tari Mare-Mare

Tari mare-mare adalah tarian daerah Sumatera Selatan yang menceritakan tentang seorang gadis yang pergi merantau menuntut ilmu lalu pulang membawa ilmu dan pasangan.

Kisah tersebut tertuang dalam gerakan tari mari-mari dan juga dalam syair lagu yang mengiringinya. Ada dua versi Tari Mare-Mare yang dibedakan berdasarkan syair dan juga cerita yang mengiringi tarian ini.

b. Tari Gending Sriwijaya

Tarian khas dari Sumatera Selatan ini merupakan tarian yang berasal dari Palembang. Tarian ini dinamakan tari “Gending Sriwijaya” karena dalam pertunjukannya, tarian ini diiringi lagu “Gending Sriwijaya.”

Tari gending sriwijaya sendiri merupakan tarian kolosal peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pada zaman dahulu hanya dipentaskan oleh pihak kerajaan untuk menyambut tamu istimewa.

Pola gerak tarian ini merupakan gambaran dari kegembiraan gadis-gadis Palembang dalam menyambut tamu agung sembari mempersembahkan tepak yang berisi sirih, kapur, dan pinang serta berbagai ungkapan rasa bahagia dan penghormatan.

Di era modern, tari gending sriwijaya kerap dipertunjukkan menyambut tamu-tamu istimewa seperti kepala negara hingga pejabat-pejabat penting termasuk duta besar.

c. Tari Tanggai

Tari Tanggai yang kita kenal di era modern ini merupakan tari Tanggai versi Elly Rudi yang menggunakan lagu “Enam Saudara.” Elly Rudi sendiri merupakan seorang mantan penari gending sriwijaya. Terciptanya tarian daerah Sumatera Selatan ini adalah akibat dari pelarangan pementasan tari gending sriwijaya pada tahun 1965.

Tari tanggai yang dikenal saat ini merupakan tarian yang menggambarkan keramahan dan rasa hormat masyarakat Palembang atas kehadiran tamu.

Menurut sejarah, tari tanggai berkembang di Palembang pada abad ke-5 Masehi. Pada waktu itu, tarian ini merupakan tarian pengiring persembahan sesajen yang berisi bunga dan buah-buahan bagi Dewa Siwa.

Sebutan “tari tanggai” sendiri berasal dari hiasan seperti kuku terbuat dari lempengan tembaga yang dikenakan pada 8 jari penari, kecuali jari jempol. Karena itulah, penari tanggai biasanya dipilih yang memiliki jari-jari lentik agar bisa mengenakan tanggai.

 4. Sumatera Barat 

Masyarakat Sumatera Barat memiliki budaya yang kaya dan unik. Salah satu aspek budaya yang menonjol adalah tarian tradisional. Beberapa tarian tradisional yang terkenal di Sumatera Barat antara lain tari payung, tari indang, tari piring, dan masih banyak lagi.

Setiap tarian daerah Sumatera Barat memiliki filosofi dan cerita tersendiri yang menggambarkan keindahan, kearifan, serta keberagaman budaya Minangkabau.

a. Tari Piring

Tari Piring khas Sumatera Barat adalah tarian daerah yang berasal dari Minangkabau. Tarian ini diciptakan sebagai ekspresi seni dan keberanian.

Gerakan tari piring menggambarkan sejarah masyarakat Minangkabau terkait pertahanan serta perang menggunakan piring untuk menghalau penjajahan.

Ciri khas daerah Sumatera Barat ini adalah, penari membawa piring sembari melakukan gerakan dinamis yang melibatkan unsur gerak akrobatik yang diiringi musik tradisional Minangkabau.

b. Tari Payung

Tarian payung juga berasal dari Minangkabau. Terciptanya tari payung berkaitan erat perayaan masyarakat Minangkabau yang damai.

Tari payung memiliki gerakan yang sangat khas karena penarinya akan membawa (properti) payung yang dihias dengan indah sambil melakukan gerakan yang anggun dan penuh makna simbolis. Tari payung kerap dipentaskan pada perayaan-perayaan seperti pernikahan atau acara adat.

c. Tari Indang (Tari Dinding Badinding)

Tari indang juga dikenal dengan sebutan tari “dinding badinding,” adalah tarian yang pada awalnya diciptakan untuk memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Minangkabau. Tapi saat ini, tari indang digunakan sebagai bentuk ekspresi seni untuk menghibur masyarakat.

Dalam setiap pertunjukan tari indang biasanya akan diiringi alat musik seperti talempong dan gendang. Tarian daerah ini umumnya dibawakan oleh para muda-mudi tanpa riasan dan mengenakan pakaian khas Minangkabau yang sederhana. 

 5. Bengkulu 

Bengkulu memiliki dua suku asli dengan populasi tertinggi, yaitu Rejang dan Serawai. Suku Jawa merupakan populasi etnis tunggal terbesar di Bengkulu, dengan persentase 22,64%.

Meskipun banyak dipengaruhi oleh budaya modern, namun masyarakat Bengkulu tetap berusaha menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dari nenek moyang mereka.

Untuk menjaga identitas mereka dan mewariskan budaya kepada generasi muda, masyarakat Bengkulu kerap menggunakan media tarian tradisional. Tarian tradisional di Bengkulu yang terkenal antara lain, tari andun, tari kejei, dan tari bubu.

a. Tari Kejei

tari kejei memang merupakan tarian dari suku Rejang di Bengkulu. Masyarakat Rejang meyakini tari kejei memiliki makna dan nilai yang sakral. Oleh karena itu, tarian ini hanya dilaksanakan dalam acara tertentu seperti pada perayaan musim panen raya atau upacara Kejei–yang merupakan hajatan terbesar suku Rejang. Selain itu, tari kejei juga kerap dipentaskan pada acara menyambut biku (tamu penting), upacara perkawinan, dan adat marga.

Pelaksanaan tarian ini juga sering disertai dengan pemotongan kerbau atau sapi sebagai syaratnya. Tarian kejei umumnya dimainkan oleh para pemuda pada malam hari dengan menggunakan penerangan lampion yang estetik. Dan, diiringi alat musik tradisional seperti seperti seruling, gong, dan kulintang.

b. Tari Andun

Tari andun adalah tarian rakyat dari Bengkulu Selatan yang biasanya ditampilkan di lapangan terbuka. Tari ini merupakan bagian dari upacara adat Nundang Padi, yaitu ritual adat masyarakat Bengkulu Selatan untuk memuliakan benih padi.

Tari andun memiliki beberapa gerakan khas seperti, gerak sembah dan gerak puji yang diselaraskan dengan gerak maju dan mundur langkah kaki.

Filosofi dibalik tari andun adalah nilai kebersamaan dan gotong royong dalam bermasyarakat agar bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah.

 6. Riau 

Riau terletak di bagian tengah pantai timur Pulau Sumatera. Provinsi ini beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata antara 2000-3000 milimeter per tahun.

Seperti masyarakat daerah lainnya di Indonesia, masyarakat Riau juga memiliki budaya yang beragam. Salah satunya adalah tarian tradisional seperti tari tandak, joged lambak, tari malemang, tari zapin penyengat, hingga tarian persembahan.

a. Tarian Persembahan

Tari persembahan disebut juga tarian makan sirih merupakan tarian daerah Riau merupakan tarian penyambutan tamu agung atau tamu kehormatan.

Gerakan tari persembahan sangat sederhana dan hanya melibatkan tangan dan kaki. Tarian tradisional Riau ini umumnya dibawakan oleh penari perempuan berjumlah ganjil. Seorang penari akan bertugas untuk membawa sebuah wadah yang berisi sirih sebagai persembahan kepada tamu yang paling dihormati terlebih dahulu sebelum kemudian diberikan kepada tamu-tamu lainnya.

Setiap pertunjukannya tarian persembahan akan diiringi sejumlah alat musik seperti akordion, gendang, gambus, serta biola.

b. Tarian Joget Lambak

Tari joget lambak merupakan kesenian tari daerah yang berasal dari Riau dan dibawakan secara berpasangan karena seni tari ini tergolong sebagai seni tari pergaulan. Penari wanita disebut tandak dan penari pria disebut pandak.

Pada setiap pertunjukan tarian joged lambak selalu diiringi dengan alat musik gendang.

 7. Kepulauan Riau 

Kepulauan Riau terletak di sebelah timur Sumatera, berbatasan dengan negara Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Provinsi Riau terdiri dari beberapa pulau besar dan kecil dan diliputi perairan yang cukup luas.

Kondisi geografis Kepulauan Riau yang berada di wilayah maritim mempengaruhi kehidupan masyarakat dan seni budaya lokal. Seni tari merupakan salah satu seni budaya yang cukup menonjol di tengah-tengah masyarakat setempat. Sebagian besar tarian yang berkembang mencerminkan budaya Melayu.

Beberapa contoh tarian tradisional yang terkenal di Kepulauan Riau antara lain, tari zapin penyengat, tari inai, tari patah sembilan, hingga tari joget dangkong.

a. Tari Zapin Penyengat

Tari zapin atau tari zapin penyengat merupakan kesenian tradisional Melayu yang berasal dari Kepulauan Riau, tepatnya di Pulau Penyengat.

Asal kata zapin berasal dari bahasa Arab yaitu ”zafn” yang bisa bermakna “gerakan kaki dan tangan yang cepat mengikuti irama pukulan (gendang).”

Tarian ini dibawakan secara berkelompok oleh sejumlah laki-laki. Tarian ini seringkali digunakan sebagai media memperkenalkan agama Islam melalui syair-syair atau nyanyian yang mengiringi tari zapin.

 8. Jambi 

Provinsi Jambi dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan tangan yang khas seperti kain tenun songket, ukiran kayu, hingga anyaman bambu. Selain itu, Jambi juga kerap dijadikan sebagai destinasi wisata karena di Jambi terdapat festival budaya yang unik seperti Festival Rengasdengklok hingga Festival Budaya Danau Kerinci.

Masyarakat Jambi juga memiliki sejumlah tarian tradisional yang hingga saat ini masih terus dilestarikan dan sering dipertunjukkan dalam rangkaian acara adat, pernikahan, ataupun perayaan-perayaan keagamaan. Beberapa contoh tari daerah Jambi diantaranya adalah, Tari Sekapur Sirih, Tari Tauh, Tari Rangguk, Tari Rentak Besapih, Tari Inai, Tari Kubu hingga Tari Sekato.

a. Tari Sekapur Sirih

Tari sekapur sirih merupakan tarian yang menggambarkan ketulusan masyarakat Jambi dalam menyambut tamu. Tarian ini biasanya dibawakan oleh 12 orang penari yang terdiri atas, 9 orang penari perempuan dan 3 penari laki-laki. Penari perempuan bertugas membawa wadah yang dalam istilah setempat disebut cerano. Gerakan tarian ini menitikberatkan gerakan yang lemah lembut. 

b. Tari Tauh

Tari tauh adalah kesenian tari daerah Jambi yang sering dihadirkan dalam upacara adat seperti pernikahan masyarakat Jambi, khususnya masyarakat Rantau Pandan yang ada di Kabupaten Bungo.

Tari tauh adalah sejenis tari pergaulan yang digunakan sebagai media pertemuan muda-mudi, sekaligus tarian yang menggambarkan semangat beselang (gotong royong) masyarakat Jambi.

Uniknya, selama pertunjukan tari, penari laki-laki dan perempuan akan dipisahkan dengan seutas tali yang direntangkan sebagai pembatas.

Umumnya, tari tauh akan dimainkan oleh 4 orang penari wanita dan 4 orang penari pria yang akan melantunkan berbagai macam pantun sambil menari.

 9. Lampung 

Setiap tahun di Lampung diadakan Festival Krakatau untuk memperingati letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Untuk memeriahkan festival ini biasanya akan diadakan berbagai macam pertunjukan seni, seperti seni musik dan berbagai seni budaya Lampung lainnya termasuk seni tari.

Ya, Provinsi Lampung memang kaya akan seni budaya tari. Contoh tari daerah Lampung yang populer diantaranya adalah, tari melinting, tari bedana, tari cangget, tari sigeh pengunten, serta tari topeng.

Berikut adalah informasi singkat mengenai gerakan dan fungsi serta sejarah sejumlah tari daerah Lampung tersebut.

a. Tari Cangget

Bisa dibilang, tari cangget adalah tarian tradisional Lampung yang paling terkenal. Diperkirakan, tarian ini sudah ada sejak tahun 1525 Masehi. Tarian adat cangget sering ditampilkan sebagai pembukaan acara adat atau peresmian.

b. Tari Melinting

Tari melinting adalah tarian tradisional Lampung yang diciptakan pada abad ke-16 oleh Ratu Melinting. Seni tari tradisional ini dibawakan oleh 8 penari yang terdiri dari 4 penari pria dan 4 penari wanita.

Tari Melinting memiliki gerakan yang lemah lembut tapi juga gagah karena melambangkan keagungan dan keperkasaan Ratu Melinting.

10. Bangka Belitung

Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah. Karena itu, tidak mengherankan apabila di Bangka Belitung bisa dengan mudah kita temukan pengrajin timah yang menghasilkan berbagai karya seni yang indah seperti patung, perhiasan, dan macam-macam aksesoris.

Bangka Belitung juga terkenal memiliki banyak makanan tradisional yang lezat dan unik seperti mie Belitung hingga lempah kuning. Di samping itu, di Bangka Belitung juga berkembang sejumlah kebudayaan dan kesenian. Beberapa contoh kesenian khas Bangka Belitung yang terkenal diantaranya adalah:

a. Tari Biak Kelekak

Tari biak kelekak adalah tarian tradisional khas daerah Bangka Belitung yang menceritakan tentang keceriaan anak-anak yang bermain di kebun.

b. Tari Campak

Tari campak merupakan tari daerah Bangka Belitung yang berkembang pada masa pendudukan Portugis. Tari ini sendiri mencerminkan keceriaan muda-mudi atau bujang dan dayang Kepulauan Bangka Belitung. Tarian campak khas Bangka Belitung idealnya ditampilkan sepulang dari ume (kebun) atau setelah panen.

c. Tari Serimbang

Tari Serampang merupakan tari daerah yang sangat unik karena terinspirasi dari burung cabak yang terkenal pandai memikat sehingga banyak burung-burung yang suka berada di sekitarnya. Burung cabak adalah burung endemik dari daerah Tempilang, yaitu sebuah kabupaten di Bangka Barat.

Terinspirasi dari burung cabak, tari serimbang memiliki gerakan yang mirip dengan cara burung cabak yang sedang berkicau atau mengepak-ngepakkan sayap.

11. Kalimantan Barat

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Tapi yang membuatnya istimewa adalah, di Kalimantan Barat terdapat Tugu Khatulistiwa yang menjadi tanda titik koordinat 0 garis Khatulistiwa. Pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September benda di titik 0 tidak akan memiliki bayangan karena matahari tepat berada di atas.  

Kondisi geografis dan pengaruh alam serta keragaman etnis yang ada di Kalimantan Barat merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi seni budaya tari di daerah ini. Di Kalimantan Barat, terdapat beberapa tari tradisional yang terkenal seperti,

a. Tari Ajat Temuai Datai

Tari ajat temuai datai adalah tarian dari suku Dayak Iban yang secara khusus digunakan untuk menyambut kedatangan pahlawan yang pulang membawa potongan kepala musuh dari medan perang.

Namun di era modern ini, tari ajat temuai daitai hanya digunakan untuk menyambut tamu yang dihormati. Meskipun sering juga digunakan sebagai hiburan bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

b. Tari Monong

Tari monong lagu tarian sakral suku Dayak di Kalimantan Barat yang dianggap bisa menolak penyakit agar penderita bisa sembuh. Tarian ini biasanya digelar ketika dukun atau tetua adat sedang berada di alam bawah sadar (trance).

c. Tari Adat Dayak Pesaguan

Tari Adat Dayak Pesaguan adalah tarian daerah Kalimantan Barat yang dianggap mistis dan sakral. Sebab, baik waktu pertunjukan maupun tempat dan penari serta sesajen yang harus dibawa ditentukan oleh leluhur.

Tarian Adat Dayak Pesaguan biasanya diperagakan oleh 4 orang penari perempuan dan dua penari laki-laki yang memiliki hubungan keluarga.

Tarian Adat Dayak Pesaguan ini sendiri sering dipentaskan pada upacara pernikahan di wilayah Ketapang. Serta, sering juga dipertunjukkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, serta bisa juga digunakan sebagai tari penyambutan.

12. Kalimantan Timur

Suku asli yang mendiami Kalimantan Timur adalah suku Dayak Punan, Bukat, Paser, Modang, Ohong, dan masih banyak yang lainnya. Selain suku Dayak, di Kalimantan Timur juga banyak suku-suku lain seperti Suku Banjar, Suku Bugis, dan suku Jawa.

Aneka ragam suku bangsa yang mendiami Kalimantan Timur sudah pasti mewarnai seni budaya daerah ini. Termasuk seni tari yang menjadi salah satu seni budaya yang masih banyak dilestarikan hingga saat ini.

Sejumlah tari tradisional Kalimantan Timur yang hingga saat ini masih bisa kita jumpai di antaranya adalah, Tari Datun Ngentau, Tari Enggang, Tari Gantar, Tari Kancet Lasan, hingga Tari Merak. 

Mari kita bahas satu persatu tarian daerah Kalimantan Timur ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejarah, tujuan, dan filosofi dibaliknya.

a. Tari Datun Ngentau

Tari Datun Ngentau merupakan warisan budaya dari leluhur suku Dayak Kenyah yang hingga saat ini masih dilestarikan. Tari Datun Ngentau sendiri merupakan tarian adat yang bisa bermakna (sebuah) “tarian dengan nyanyian.”

Hingga saat ini, Tari Datun Ngentau masih bisa kita saksikan, terutama di desa Barun, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di sana, tarian ini kerap dipertunjukan dalam upacara adat Mecaq Undat, dan juga sering digelar sebagai media untuk menyampaikan ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

b. Tari Gantar

Tari Gantar adalah tarian adat yang berasal dari suku Dayak Benuaq dan suku Dayak Tanjung. Tarian daerah Kalimantan Timur ini umumnya dibawakan oleh muda-mudi dan digelar untuk mengharapkan hasil panen yang melimpah.

Sebutan Tari Gantar berasal dari bambu panjang yang disebut gantar sebagai properti saat menari. Gantar ini sendiri merupakan perwujudan dari kayu yang digunakan untuk membuat lubang tanam saat menabur benih.

c. Tari Kancet Lasan

Bagi masyarakat suku Dayak Kenyah, burung enggang adalah burung yang dimuliakan karena dianggap sebagai tanda keagungan dan juga kepahlawanan.

Untuk memuliakan burung enggang, masyarakat Dayak Kenyah menciptakan Tari Kancet Lasan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dari burung enggang.

Tarian ini hanya dibawakan oleh seorang penari wanita yang berasal dari suku Dayak Kenyah. Gerakan-gerakan Tari Kancet Lasan Sama persis dengan tari tradisional kancet ledo.

d. Tari Kancet Ledo

Tari kancet ledo adalah tarian tunggal, sama seperti tarian kancet lasan. Tarian ini juga dibawakan oleh seorang penari perempuan.

Tari Kancet Ledo merupakan tarian tradisional suku Dayak Kenyah yang juga dikenal dengan sebutan tari gong. Tari ini sendiri menggambarkan kelembutan dan keseimbangan hidup seorang gadis Dayak yang dapat kita saksikan melalui berbagai gerakan-gerakan yang dilakukan secara berulang-ulang.

13. Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan adalah salah satu wilayah di Indonesia kaya dengan keberagaman alam seperti sungai-sungai besar, hutan hujan tropis, lahan gambut, dan juga memiliki keanekaragaman etnis. Semua itu memberikan inspirasi bagi budaya yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan.

Budaya tari adalah salah satu budaya di Kalimantan Selatan yang cukup berkembang dan banyak dipengaruhi oleh unsur alam dan juga etnis yang mendiami daerah yang beribukota di Banjarmasin ini.

Beberapa contoh tarian tradisional Kalimantan Selatan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat yang erat kaitannya dengan alam serta etnis diantaranya adalah, tarian perburuan, tarian pertanian, tari baksa kembang, tari topeng banjar, tari sinoman hadrah, hingga tari rudat.

a. Tari Baksa Kembang

Tari baksa kembang adalah tari yang pada awalnya hanya ditampilkan di internal Kesultanan Banjar pada abad ke-15 di periode Hindu-Budha untuk menyambut tamu. Namun kini, tari Baksa Kembang lebih sering ditampilkan dalam upacara pernikahan.

Tari Baksa Kembang berkisah tentang remaja putri yang sedang bermain-main di taman bunga. Karena itulah, tarian ini selalu dibawakan oleh penari wanita dalam bentuk tarian tunggal ataupun berkelompok dengan jumlah ganjil.

b. Tari Rudat

Tari Rudat merupakan kesenian tari tradisional dari Kalimantan Selatan yang bernafaskan Islam. Tari Rudat yang memiliki gerakan yang kontinu mengikuti irama dari musik rebana (terbang) yang diiringi syair bernafaskan Islam berupa puji-pujian untuk mengagungkan Allah serta shalawat kepada Rasulullah.

Pertunjukan tari rudat biasanya diselenggarakan pada upacara-upacara kelahiran anak sebagai ucapan rasa syukur.

c. Tari Topeng Banjar

Tari Topeng Banjar adalah tari tradisional suku Banjar yang dianggap sakral, yang berfungsi sebagai pengobatan (batatamba) bagi orang yang sakit (kapingitan).

Tari Topeng Banjar merupakan jenis tarian klasik yang berkembang pada zaman kerajaan Negara Dipa. Hari ini umumnya diperagakan oleh 3 orang dan diiringi dengan gamelan Banjar.

14. Kalimantan Tengah

Seperti daerah Kalimantan pada umumnya, Kalimantan Tengah memiliki geografis yang terdiri atas hutan hujan (tropis) dan juga sungai-sungai besar peserta dihuni oleh berbagai suku bangsa dan etnis, dengan suku Dayak sebagai suku asli.

Keanekaragaman etnis dan kekayaan alam yang ada di Kalimantan Tengah memberikan banyak pengaruh terhadap tari tradisional. Beberapa contoh tari daerah Kalimantan Tengah yang terkenal diantaranya adalah, tari mandau, tari kinyah mandau, tari manasai, tari manggetem, hingga tari potong pantan.

a. Tari Mandau

Tari mandau adalah tarian khas suku Dayak di Kalimantan Tengah yang memiliki gerakan akrobatik karena menggunakan properti Mandau (sebutan untuk senjata tradisional suku Dayak berbentuk parang).

Tari Mandau sendiri merupakan tarian yang menggambarkan semangat juang suku Dayak dalam berperang membela harga diri dan kehormatan sukunya.

Di era modern, Tari Mandau masih sering dipentaskan dalam berbagai upacara adat, dan juga sering digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.

b. Tari Manasai

Suku Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan terdiri atas 6 rumpun yaitu, Rumpun Klemantan, Rumpun Murut, Rumpun Iban, Rumpun Apokayan, Rumpun Punan, dan Rumpun Ot Danum-Ngaju.

Suku Dayak Ngaju adalah salah satu Suku Dayak yang mendiami wilayah Kalimantan Tengah. Dayak Ngaju Memiliki banyak tarian tradisional dan salah satunya adalah tari manasai.

Tari yang berasal dari suku Dayak Ngaju ini adalah simbol kegembiraan dan kebersamaan. Karena itulah, tarian ini kerap dilakukan bersama-sama dengan masyarakat Dayak Ngaju dalam acara-acara pesta maupun kegiatan-kegiatan penting, termasuk upacara menyambut tamu.

c. Tari Manggetem

Tari Manggetem adalah tarian tradisional Suku Dayak yang menceritakan suasana panen raya. Sehingga, hari ini bernuansa gembira.

15. Kalimantan Utara

Kalimantan Utara adalah salah satu provinsi baru di Indonesia yang merupakan hasil pemekaran dari wilayah Kalimantan Timur.

Banyak tari tradisional Kalimantan Utara yang mengangkat tema alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal seperti kegiatan berburu, mencari ikan, dan juga bertemakan keindahan alam.

Beberapa tarian daerah Kalimantan Utara yang sering dipentaskan dalam berbagai acara adat atau festival budaya diantaranya adalah: Tari magunatip/lalatip, tari pebekatawai, dan tari mance.

a. Tari Magunatip

Tari Magunatip disebut juga Tari Lalatip yang berarti menjepit, merupakan tarian tradisional suku Dayak Tahol. Tarian ini juga dikenal sebagai tarian bambu karena dalam prakteknya, tari Magunatip merupakan tarian yang melatih ketangkasan kaki untuk menghindari rintangan dengan melompat diantara jepitan bambu.

b. Tari Mance

Tari mance disebut juga tari bemance, adalah tarian perang khas Suku Bulungan di Kalimantan Utara. Gerak pada tarian ini mirip dengan gerakan-gerakan silat, dan banyak dipertunjukkan sebagai hiburan.

16. Banten

Banten adalah daerah penyangga bagi Jakarta. Sedikit banyak kondisi geografis Banten tersebut memiliki pengaruh terhadap budaya dan seni tradisional yang berkembang di masyarakatnya, khususnya tari tradisional.

Banten memiliki berbagai tarian adat tradisional yang terkenal, seperti:

a. Tari Grebeg Terbang Gede

Tari Grebeg Terbang Gede adalah tarian yang secara khusus digelar pada upacara penyambutan tamu besar. Tarian ini merupakan perpaduan antara tarian biasa dan pencak silat.

b. Tari Ngebaksakeun

Tari Ngebaksakeun adalah tarian daerah Banten lainnya yang sering digunakan untuk menyambut tamu. Tarian ini memiliki unsur kegembiraan dan keceriaan dalam menyambut tamu gambaran perasaan pihak tuan rumah yang merasa bahagia dan senang dengan kedatangan tamunya.

c. Tari Gitik Cokek

Tari Gitik Cokek adalah tarian khas Banten yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat di bidang agrikultur atau pertanian.

d. Tari Bendrong Lesung

Tarian daerah Banten lainnya yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banten adalah tari Bendrong Lesung. Tarian ini merupakan gambaran kegiatan pengolahan padi secara manual menggunakan alat tradisional berupa lesung.

17. DKI Jakarta

Berstatus sebagai ibukota Indonesia membuat DKI Jakarta dihuni oleh masyarakat yang bersifat heterogen dengan beragam latar belakang suku dan agama serta etnis maupun adat istiadat dan tradisi.

Suku asli yang mendiami Jakarta adalah suku Betawi. Meski demikian, Jakarta juga didiami oleh suku-suku lain seperti suku Sunda, Jawa, Batak, Tionghoa, dan juga Melayu.

Sejak zaman Belanda, Jakarta telah menjadi tempat berkumpulnya penduduk dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Karena itulah, terdapat beragam seni budaya yang berkembang.

Di bidang seni tari, di DKI Jakarta berkembang beragam tarian daerah yang unik dan menarik yang sebagian besar menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi, di samping terdapat pula tarian-tarian daerah lainnya yang menggambarkan keberagaman budaya.

Tari topeng betawi, ondel-ondel, tari cokek, tari nandak ganjen, tari lenggang none, tari kembang lambang sari, ronggeng blantek, hingga tari zapin betawi, merupakan contoh tarian daerah DKI Jakarta yang terkenal.

  1. Ondel-Onde

Tari ondel-ondel adalah tari tradisional yang berasal dari suku Betawi sebagai suku asli di Jakarta yang menggunakan ondel-ondel sebagai bagian dari pertunjukan tari.

Ondel-ondel sendiri adalah patung raksasa yang terbuat dari anyaman bambu dan dilengkapi dengan topeng berukuran besar yang akan digerakkan oleh penari.

Gerakan khas tari ondel-ondel adalah mengangkat dan mengayunkan tangan serta menggoyangkan badan, sambil melangkahkan kaki dengan langkah-langkah yang besar agar tampak energik. Gerakan ini adalah simbol keberanian dan perlindungan dari kejahatan.

Tari ondel-ondel sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Oleh masyarakat Betawi, tari ondel-ondel digunakan sebagai penolak bala atau pengusir roh jahat dan penjaga kampung.

Dahulu, ondel-ondel biasanya diarak saat ada pagebluk (wabah) yang melanda kampung. Selain itu, sering juga diarak ketika ada acara selamatan, hajatan besar seperti Cap Go Meh, atau ketika upacara sedekah bumi setelah panen raya. 

Pertunjukan ondel-ondel juga biasanya diiringi kelompok orkes kampung yang disebut tanjidor, yang terdiri dari beberapa alat musik, seperti gendang tepak, kendang kempul, dan lain-lain

Saat ini, tari ondel-ondel masih bisa kita saksikan, terutama di pesta rakyat seperti hari Jakarta pada tanggal 22 Juni. Selain itu, tari ondel-ondel juga terkadang dipentaskan dalam acara perayaan masyarakat Betawi lainnya seperti acara khitanan dan juga pernikahan, dan berbagai acara lainnya.

b. Tari Topeng Betawi

Tari Topeng Betawi adalah tarian tradisional suku Betawi yang dibawakan dengan menggunakan topeng sebagai atributnya. Penggunaan topeng dalam tari Topeng Betawi digunakan untuk menggambarkan berbagai karakter masyarakat dan juga cerita dalam kehidupan masyarakat Betawi.

Menurut sejarah tari Topeng sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda merupakan perkembangan dari tradisi seni pertunjukan topeng yang dibawa oleh orang-orang Tionghoa pada abad ke-17.

Gerakan khas tari Topeng Betawi dilakukan sesuai dengan karakter dan emosi yang dibawakan oleh penari sehingga terlihat lincah dan ekspresif. Begitu juga dengan kostum atau pakaian yang dikenakan, umumnya menyesuaikan dengan karakter yang diperankan.

Di masyarakat Betawi tari Topeng Betawi adalah seni pertunjukan sebagai sarana hiburan sekaligus untuk mengenal karakter dan juga cerita kehidupan masyarakat Betawi di samping digunakan juga sebagai simbol identitas budaya Betawi.

Saat ini, pertunjukan tari Topeng Betawi masih bisa kita saksikan di berbagai perayaan seperti acara khitanan pernikahan atau acara pentas budaya lainnya.

c. Tari Cokek

Tarian tradisional suku Betawi lainnya adalah tari cokek yang juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi yang penuh semangat dan ceria.

Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang lincah dan ceria karena salah satu tujuan Tari Cokek adalah untuk menghibur masyarakat sekaligus sebagai ekspresi Seni rakyat Betawi.

Tari Cokek biasanya dipentaskan pada acara-acara perayaan seperti acara khitanan dan pernikahan untuk menghibur masyarakat ataupun tamu undangan.

d. Tari Lenggang None

Tari lenggang none merupakan bentuk ekspresi seni dan keindahan gerak tubuh yang berakar dari budaya masyarakat Betawi.

Tarian daerah DKI Jakarta ini melambangkan keanggunan dan keindahan wanita Betawi. Karena itulah, tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang penari perempuan.

Gerakan khas tari lenggang none menampilkan gerakan tangan dan kaki serta tubuh yang elegan dan mengalir dengan luwes.

18. Jawa Barat

Seni budaya tari yang berkembang di Jawa Barat mendapatkan banyak pengaruh dari budaya Jawa, agama atau kepercayaan, dan interaksi dengan budaya-budaya lain. Karena itulah, baik tema maupun gerakan pertunjukan tari daerah Jawa Barat terkadang memiliki kesamaan dengan tarian-tarian daerah Jawa lainnya.

Suku yang mendiami Jawa Barat diantaranya adalah suku Sunda, suku Baduy, suku Cirebon, disamping suku Betawi serta suku Jawa.

Budaya seni di Jawa Barat berkembang dengan cukup baik. Selain terkenal dengan seni kerajinan seperti anyaman bambu dan ukiran kayu serta batik, Jawa Barat juga dikenal sebagai rumah bagi seni budaya tari, semisal tari ketuk tilu, tari jaipong, tari topeng priangan, tari merak, hingga tari wayang golek.

a. Tari Ketuk Tilu

Tari Ketuk Tilu adalah sejenis tari pergaulan yang dianggap sebagai cikal bakal tari jaipong. Tarian ini memiliki gerakan khas yang menggambarkan perasaan asmara dan keceriaan serta kesuburan dan kekuatan masyarakat Sunda. Selain mengandung unsur tari, gerakan tari Ketuk Tilu juga mengandung unsur pencak silat.

Tari ketuk tilu bisa diperagakan oleh laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Ciri khas gerakan tarian ini terletak pada gerakan-gerakan seperti, gerakan geol yang melambangkan kesuburan, gerakan gitek yang melambangkan kekuatan, dan gerakan goyang yang melambangkan keceriaan.

Dahulu, tarian daerah Jawa Barat ini digunakan sebagai ungkapan rasa syukur dan dipertunjukkan pada upacara panen padi. Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini menjadi tarian hiburan yang kerap dipertunjukkan dalam acara-acara pesta atau pesta rakyat lainnya.

Saat ini, Tunjukkan Tari ketuk tilu masih bisa kita saksikan di Jawa Barat, khususnya pada event seperti Festival Ketuk Tilu ataupun pertunjukan seni budaya Jawa Barat lainnya.

b. Tari Jaipong

Tari jaipong adalah salah satu tari paling terkenal yang berasal dari Jawa Barat. Seni pertunjukan tari jaipong adalah gabungan tari tradisional Sunda dan musik yang energik.

Pertunjukan tari jaipong juga ditampilkan oleh sekelompok penari yang diiringi irama musik yang berasal dari kendang, suling, dan juga rebab.

Ciri khas tari jaipong terletak pada gerakannya yang lincah dan seksual serta kecepatan dan ketepatannya dalam mengikuti irama musik. Tari jaipong menitikberatkan gerakan-gerakan yang melambai-lambai dan gerakan pinggul yang dinamis.

Tari jaipong merupakan seni pertunjukan yang muncul pada tahun 1960-an dan merupakan pengembangan dari seni tari tradisional Sunda seperti tari Ketuk Tilu. 

c. Tari Topeng Priangan

Tari topeng Priangan adalah tarian yang menggunakan topeng untuk menggambarkan berbagai karakter yang berasal dari kehidupan masyarakat Pariangan seperti, karakter raja, menteri, atau tokoh-tokoh lain.

Ciri khas tari topeng Priangan terletak pada gerakan tangan dan kaki serta tubuh yang lincah, anggun, dan mimik yang ekspresif seta cerdik.

19. Jawa Tengah

Pada zaman dahulu, Jawa Tengah merupakan salah satu pusat perkembangan ajaran agama Hindu-Budha. Karena itulah, di Jawa Tengah banyak ditemukan candi-candi peninggalan yang hingga saat ini masih berdiri tegak. Seperti Candi Prambanan (Hindu), Candi Borobudur (Budha), Candi Mendut, Candi Pawon, Plaosan, Sambisari, hingga Candi Kalasan.

Perkembangan agama Hindu-Budha pada zaman dahulu sedikit banyak memberi pengaruh pada budaya seni tari yang berkembang di Jawa Tengah. Karena tari-tarian pada zaman Hindu-Budha merupakan bagian dari pemujaan kepada dewa-dewi.

Tarian-tarian yang berkembang di Jawa Tengah tidak hanya berupa seni gerak tubuh tapi juga merupakan pengejawantahan dari olah rasa dan olah pikir yang berfokus pada kelembutan dan kesantunan untuk menghasilkan harmonisasi dan keseimbangan antara gerak, irama, dan rasa.

Beberapa tarian di Jawa Tengah dianggap sebagai tarian sakral yang hanya boleh ditampilkan di tempat-tempat tertentu dan pada upacara-upacara khusus. Seperti misalnya, tarian-tarian jenis bedhaya yang hanya dipagelarkan pada acara penobatan raja (jumeneng dalem) ulang tahun raja (tumbuk yuswa), pada pernikahan putra-putri raja (pawiwahan ageng), atau saat menyambut tamu-tamu kehormatan.

Beberapa contoh tarian khas Jawa Tengah yang hingga saat ini masih dilestarikan dan cukup populer diantaranya adalah, tari gambyong, tari beksan wireng, tari gambir anom, tari prawiroguno, tari serimpi, tari jathilan, hingga tari bedhaya.

a. Tari Serimpi

Tari serimpi adalah tarian tradisional Jawa Tengah yang sangat populer. Tarian ini diperankan oleh penari wanita. Ciri khas tarian ini memiliki gerakan yang lemah gemulai dan gerakan mata yang lembut serta gerakan tangan yang elegan.

Pada zaman dahulu, tarian serimpi lebih sering ditampilkan di istana keraton sebagai hiburan bagi keluarga kerajaan.

Tarian ini melambangkan keindahan, kelembutan dan keanggunan seorang wanita, juga menggambarkan kerinduan atau perasaan cinta serta keharmonisan dalam kehidupan.

b. Tari Gambyong

Tari gambyong adalah seni tari yang melambangkan keceriaan dan keindahan serta keanggunan seorang wanita. Tarian ini memiliki gerakan yang ekspresif dan bersifat ceria.

Seperti halnya tari serimpi, tari gambyong juga merupakan tari tradisional yang pada zaman dahulu lebih banyak dipentaskan di keraton untuk menghibur para raja dan juga keluarga kerajaan.

c. Tari Bedhaya

Berbeda dengan 2 tari daerah Jawa Tengah yang sudah disebutkan sebelumnya, tari bedhaya adalah tarian yang dianggap lebih sakral karena menggambarkan keharmonisan, keagungan, kekuasaan, dan spiritual.

Tari bedayan umumnya hanya digelar di istana keraton pada momen-momen khusus seperti pada penobatan raja atau upacara keagamaan.

d. Tari Gambir Anom

Tari gambir anom adalah tari klasik yang berasal dari masa Kasunanan Surakarta dan sudah ada pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Tari gambir anom pada awalnya dibawakan oleh penari tunggal laki-laki. Namun pada perkembangannya, tarian ini juga bisa dibawakan oleh penari perempuan.

Tarian ini memiliki ciri khas yang unik karena menggunakan properti seperti sayap dan juga kuluk Hanoman pada tokoh pewayangan.

Tarian ini diciptakan untuk mengungkapkan rasa syukur dan sering dipentaskan pada pergantian tahun, acara pernikahan, penyambutan tamu, serta berbagai festival budaya.

20. Daerah Istimewa Yogyakarta

Seni Budaya Tari yang berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta mendapatkan pengaruh dari berbagai faktor seperti, tradisi keraton, budaya Jawa, dan pengaruh agama serta interaksi dengan budaya lain.

Besarnya pengaruh budaya Jawa dan keraton dalam seni tari Daerah Istimewa Yogyakarta bisa dilihat pada beberapa tarian tradisional semisal, tari bedhaya semang, tari serimpi, hingga tari beksan lawung.

a. Tari Bedhaya Semang

Tari bedhaya semang adalah tarian ritual untuk menghormati Nyi Roro Kidul. Tarian ini diciptakan pada masa Sultan Agung di kerajaan Mataram. Nama tari Bedhaya Semang sendiri diberikan oleh Sultan Hamengkubuwono I ketika Kesultanan Yogyakarta berdiri.

Karena itulah, Tari Bedhaya Semang lebih sering dipertunjukkan dalam upacara-upacara istana dan upacara-upacara keagamaan di Keraton.

Dalam setiap pementasan Tari Bedhaya Semang akan melibatkan 9 penari wanita yang masih perawan dan seorang penari yang akan berperan sebagai “penari roh” yang akan memerankan Nyi Roro Kidul.

b. Tari Golek Lambangsari

Tari Golek Lambangsari adalah tarian yang secara simbolik menggambarkan seorang remaja putri yang akan beranjak dewasa yang mulai pandai bersolek untuk merias wajahnya.

Tarian tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta ini dianggap sebagai salah satu tarian klasik yang pada awalnya berkembang di luar lingkungan Istana Keraton, yang kemudian diadopsi menjadi tarian istana Pura Mangkunegaran oleh keraton Yogyakarta sebagai tarian hadiah untuk ikatan penobatan Sri Mangkunegara VI pada tahun 1916.

c. Tari Beksan Lawung

Tari Beksan Lawung adalah tarian Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono I. Tarian ini secara simbolik menggambarkan prajurit yang sedang berlatih perang dengan menggunakan lawung (sejenis tombak berujung tumpul).

Tari Beksan Lawung dipentaskan pada perayaan pernikahan putra-putri Sultan. Sebelum pementasan, para penari Beksan Lawung akan mengikuti kirab pengantin dari Keraton menuju ke Kepatihan.

d. Tari Klana Raja

Tari Klana Raja adalah Tari Daerah Istimewa Yogyakarta lainnya yang lahir dari lingkungan istana, dan biasanya dipentaskan secara eksklusif di hadapan raja.

Tarian tunggal laki-laki ini menggambarkan kondisi seorang raja yang sedang jatuh cinta. Jalan ceritanya sendiri diambil dari cerita epos Ramayana yang menceritakan Prabu Dasamuka yang lebih kita kenal dengan nama Prabu Rahwana dari kerajaan Alainka yang jatuh cinta kepada Dewi Sinta.

Tari Klana Raja memiliki struktur gerak tari yang merupakan manifestasi dari figure raja yang gagah sebagai penguasa mayapada dan alam astral.

21. Jawa Timur

Tarian yang berkembang di Jawa Timur dipengaruhi oleh nilai-nilai lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat seperti nilai kebersamaan, kejujuran, ketulusan dan rasa saling menghormati.

Selain itu perkembangan seni tari di Jawa Timur juga dipengaruhi oleh perkembangan agama seperti Hindu Budha dan Islam serta akulturasi budaya pada zaman penjajahan kolonial Belanda.

Suku asli yang mendiami Jawa Timur adalah suku Jawa, dan juga ada suku Madura, suku Bawean, peserta suku Osing.

Beberapa contoh seni budaya tari yang terkenal di Jawa Timur diantaranya adalah, tari reog ponorogo, tari gandrung banyuwangi, Tari Remo, tari jejer gandrung, tari bedayan malang, tari muang sangkal, tari jaranan buto, tari thengul, tari jaranan buto, tari muang sangkal, tari tiban, hingga tari topeng guro guhdo.

a. Tari Gandrung Banyuwangi

Tari gandrung adalah salah satu tarian tradisional khas Jawa Timur yang berasal dari Banyuwangi. Tarian ini memiliki ciri khas gerakan yang riang dan ceria. Pada umumnya, tarian gandrung dibawakan oleh penari wanita yang mengenakan pakaian warna-warni serta properti berupa topeng dengan senyuman lebar.

Tari gandrung Banyuwangi sudah mulai dikenal sejak zaman kerajaan di Banyuwangi. Tarian ini pada zaman dahulu digunakan untuk menghibur raja dan para bangsawan.

Tari gandrung Banyuwangi memiliki makna semangat hidup dan kegembiraan sarta menggambarkan keceriaan dan keunikan budaya Banyuwangi.

b. Tari Remo

Tari Remo merupakan salah satu tari daerah Jawa Timur yang sangat populer dan sering dipentaskan dalam berbagai acara budaya maupun festival.

Tari Remo melambangkan keindahan, kelembutan, dan keanggunan. Hal ini bisa disaksikan dari gerakan-gerakan Tari Remo yang lembut dan halus.

Tarian ini umumnya dibawakan oleh penari wanita. Pementasan tari akan diiringi alat musik tradisional seperti gendang dan gong.

Menurut sejarah, Tari Remo sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Pada zaman itu, tarian tradisional Jawa Timur ini digunakan untuk menghibur raja-raja dan juga bangsawan.

c. Tari Reog Ponorogo

Tari reog Ponorogo adalah tarian yang menggambarkan Kekuatan dan keberanian. Tarian reog Ponorogo diyakini berasal dari zaman kerajaan Ponorogo di abad ke-19. Menurut beberapa sumber, pencipta tari Reog Ponorogo adalah seorang tokoh spiritual yang memiliki kekuatan magis dan kemampuan mengendalikan binatang buas.

Properti yang digunakan dalam tarian Ponorogo adalah topeng kepala singa (reog) berukuran besar dan beratnya bisa mencapai 50 kg. Uniknya reog ini akan diangkat dengan menggunakan gigi penari. Berat sebuah reog kadang-kadang bisa mencapai 100 kg apabila reog tersebut dinaiki penari jathil.

Pertunjukan tari Reog hingga saat ini masih bisa kita jumpai di Jawa Timur khususnya di Kota Ponorogo. Terutama pada pagelaran festival seni tradisional, upacara adat, dan perayaan hari jadi Kota Ponorogo.

d. Tari Muang Sangkal

Tari muang sangkal adalah sebuah tarian tradisional ritual tolak bala. Tarian ini sangat populer dan kerap dianggap sebagai salah satu tarian iconic dari pulau Madura, khususnya Kabupaten Sumenep.

Ciri khas Tari Muang Sangkal akan dibawakan oleh penari yang berjumlah ganjil dan harus masih perawan dan dalam keadaan suci atau tidak sedang menstruasi.

Busana yang dikenakan dalam pementasan Tari Muang Sangkal disebut “dodot legha.” dengan properti berupa mangkok kuning yang disebut “cemong” yang berisi beras kuning dan berbagai jenis bunga semisal bunga mawar dan melati.

22. Bali

Bali adalah salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia karena selain menawarkan banyak objek wisata menarik seperti pantai dan wisata alam. Di Bali juga terdapat banyak objek wisata budaya seperti, seni tari.

Tari kecak, tari puspanjali, tari trunajaya, tari barong, tari pendet, tari legong, tari baris, hingga tari margapati, adalah beberapa contoh tarian daerah Bali yang populer.

Masyarakat Bali mayoritas menganut agama Hindu. Kepercayaan dan agama memainkan peranan penting dalam perkembangan pertunjukan tari di Bali. Tak jarang, tarian daerah Bali berkaitan erat dengan ritual keagamaan dan memiliki makna spiritual.

a. Tari Pendet

Tari Pendet adalah tarian tradisional yang merupakan bagian dari upacara keagamaan atau upacara adat di Bali. Namun, sering juga digunakan sebagai tari penyambutan.

Tarian ini dibawakan oleh sekelompok penari wanita yang membawa bokor (wadah kecil) yang berisi bunga dan menyebarkan bunga-bunga tersebut sebagai simbol penyambutan dan kebaikan.

b. Tari Legong

Tari legong adalah seni tari yang umumnya dilakukan oleh penari wanita muda yang memakai pakaian tradisional Bali. Tarian ini menggambarkan cerita-cerita mitologi dan legenda Bali.

Gerakan tari legong berfokus pada gerakan tangan, kaki, dan mata yang sangat halus dan lembut. Gerakan tangan penari melambangkan keindahan bunga, dan gerakan kaki menggambarkan langkah-langkah anggun, dan gerakan mata yang mengekspresikan emosi.

c. Tari Kecak

Tari Kecak yang dikenal juga dengan sebutan tari Api atau atari Cak adalah drama tari yang diyakini berasal dari zaman Kerajaan Bali pada abad ke-20.

Meskipun tarian ini pada awalnya adalah bagian dari upacara dan ritual keagamaan. Namun, seiring berjalannya waktu, Tari Kecak semakin populer dan kerap dipertunjukkan dalam berbagai event budaya di Bali.

Drama tari ini dilakukan oleh sekelompok penari pria yang duduk dalam formasi melingkar sambil mengangkat dan menggerak-gerakkan tangan sembari mengucapkan “cak” yang khas.

Pertunjukan tari kecak dipertunjukkan dalam bentuk drama tari yang menceritakan tentang kisah Ramayana.

d. Tari Trunajaya

Pertunjukan tari trunajaya (biasanya) dibawakan oleh penari putri dan diiringi gamelan kebyar. Tarian khas Bali ini dikategorikan sebagai tari putra keras yang merupakan gambaran dari gerak-gerik seorang remaja yang baru beranjak dewasa. Karena itulah, gerakan-gerakan yang diperagakan oleh sang penari akan memperlihatkan perilaku seorang remaja yang penuh semangat dan antusiasme.

Menurut beberapa sumber, ini diciptakan oleh Pan Wandres pada tahun 1915, sebelum kemudian mendapatkan penyempurnaan dari I Gede Manik.

23. Nusa Tenggara Timur

Ragam Budaya Tari di Nusa Tenggara Timur banyak dipengaruhi oleh keindahan alam Nusa Tenggara Timur yang kaya dan tradisi nenek moyang. Karena itulah, tarian daerah Nusa Tenggara Timur banyak yang terinspirasi oleh alam sekitarnya seperti tarian-tarian yang menggambarkan gerakan binatang.

Ada banyak tarian tradisional di Nusa Tenggara Timur diwariskan dari generasi ke generasi dan hingga saat ini masih dilestarikan seperti tarian caci, tari gareng lameng, tari perang, tari cerana, tari kataga, tari higimitan, tari bonet, tari hedung, tari hopong, tari maekat, tari peminangan, tari dadokado, dll.

a. Tari Cerana

Tari Cerana adlah tarian yang menggambarkan kegembiraan dan kebersamaan serta keseharian masyarakat Nusa Tenggara Timur, terutama yang berkaitan dengan aktivitas pertanian dan perburuan.

Tarian cerana memiliki gerakan yang khas, yang dinamis dan energik seperti melompat, berputar, dan meliuk-liuk. Gerakan ini menggambarkan kegembiraan, kekuatan, dan semangat dalam menjalani kehidupan.

b. Tari Gareng Lameng

Tari gareng lameng adalah tarian tradisional NTT yang  biasanya dipentaskan pada acara khitanan anak di NTT. Tarian ini sendiri merupakan perwujudan ungkapan rasa syukur serta doa memohon kesehatan dan kesuksesan anak yang sedang melakukan khitan.

c. Tari Caci

Tari caci adalah tarian sakral perang tanding (duel) yang pada awalnya digunakan untuk membuktikan  siapa yang benar dan siapa yang salah dalam sebuah perselisihan.

Nama tari “caci” berasal dari dua suku kata yaitu “ca” yang berarti satu dan “ci” yang berarti uji.

Tarian perang ini dibalut dalam bentuk tarian untuk mempertunjukan uji ketangkasan dan keperkasaan antara laki-laki.

Saat pertunjukan berlangsung, kedua penari akan membawa properti berupa larik (cambuk/pecut) untuk menyerang nggiling (perisai) untuk bertahan. Pecut dan perisai terbuat dari irisan kulit kerbau berukuran kecil yang sudah dikeringkan.

d. Tari Hopong

Tari hopong adalah tarian ritual meminta izin untuk memulai panen raya. Tarian daerah NTT ini berasal dari masyarakat Helong yang bermukim di Pulau Timor dan Pulau Semao. 

Tarian ini juga digunakan sebagai ritual untuk mengungkapan rasa syukur pada Tuhan dan leluhur pada hasil panen yang melimpah.

24. Nusa Tenggara Barat

Suku asli yang mendiami daerah Nusa Tenggara Barat diantaranya adalah suku Sasak (yang mendiami Pulau Lombok), suku Sumbawa dan suku Mbojo di Sumbawa dan Dompu, serta suku Mbojo dan Bima banyak berdiam di wilayah Dompu dan Bima. Suku Sasak merupakan suku terbesar dan mayoritas penduduk di Nusa Tenggara Barat.

Seni budaya tari di Nusa Tenggara Barat banyak dipengaruhi oleh sejarah, lingkungan, agama dan adat, pendidikan, interaksi budaya, dan perubahan sosial. Pengaruh-pengaruh tersebut kemudian membentuk gerakan, tema, dan makna tarian, serta mempengaruhi cara penyajian dan apresiasi terhadap seni tari daerah Nusa Tenggara Barat.

Sejumlah tarian tradisional Nusa Tenggara Barat yang populer diantaranya adalah: Tari nguri, tari lenggo, tari gendang beleq, tari rudat, tari wura bongi monca, tari buja kadanda, tari gandrung sasak, tari oncer, tari tandang mendet, tari pakon, hingga tari tandak gerok.

a. Tari Gendang Beleq

Nama tari Gendang Beleq berasal dari dua suku kata yaitu “gendang” dan “beleq” yang berarti “gendang besar.” Nama tersebut menggambarkan ciri khas tarian ini yang penarinya membawa alat musik gendang berukuran besar.

Bagi masyarakat Sasak, gendang beleq adalah seni tari yang menunjukkan identitas kesukuan dan semangat persatuan serta wujud kebersamaan masyarakat yang gemar bahu-membahu dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

Tari gendang beleq sendiri merupakan tari perang meskipun dalam pertunjukannya tidak ada gerakan-gerakan duel atau perkelahian dan tidak membawa senjata perang apapun. Hal ini karena, bagi masyarakat suku Sasak, sikap jantan atau watak maskulin digambarkan sebagai sosok yang berani bertanding dengan tangan kosong.

Formasi lengkap Tantri gendang beleq biasanya dibawakan oleh 40 orang penari dan pembawa musik pendukung. Sedangkan jumlah minimal formasi tari gendang beleq biasanya berjumlah 17 orang.

Pada zaman dahulu, tari gendang beleq digunakan untuk menyambut prajurit yang pulang dari peperangan. Sedangkan di era modern, tari gendang beleq kerap disuguhkan untuk menyambut tamu kehormatan. Meski sering juga digelar pada acara-acara rakyat seperti, khitanan, upacara pernikahan, aqiqah atau cukur rambut bayi hingga Maulid Nabi dan lebaran idul fitri.

b. Tari Nguri

Tari nguri adalah tari persembahan yang berasal dari Sumbawa Barat. Tarian ini berasal dari tradisi Sultan menyemangati masyarakat Sumbawa yang tertimpa malapetaka atau sakit.

Tarian nguri biasanya dibawakan oleh penari wanita secara berkelompok berjumlah antara 3 hingga 5 orang. Gerakan dasar tari Nguri berupa nyema, linting sere, batanak, jempit tope, dan hunte begitik.

Setiap gerakan tari nguri memiliki makna simbolis. Gerakan-gerakan khas pada tarian ini bermakna kesopanan dan keramahan serta menggambarkan penghargaan dan kelembutan.

Para penari membawa properti berupa sito, sebutan untuk nampan berbentuk kotak yang terbuat dari logam.

c. Tari Gandrung Sasak

Tari Gandrung Sasak merupakan salah satu tarian daerah Nusa Tenggara Barat yang cukup populer di kalangan masyarakat. Karena tarian ini umumnya diadakan di tempat terbuka dan dikelilingi oleh penonton yang juga bisa ikut terlibat.

Dahulu, tari Gandrung Sasak (Lombok) kerap dipentaskan pada perayaan panen padi. Tarian ini diiringi musik tradisional dan juga diiringi nyanyian yang dilantunkan oleh para penari.

Tari Gandrung sendiri dibawakan oleh perempuan dan laki-laki. Penari perempuan disebut penari “gandrung,” sedangkan penari laki-laki disebut “pemaju.”

Tarian ini umumnya dipentaskan pada malam hari dengan durasi sekitar 3 jam dan berlangsung dalam beberapa babak. Setiap babak umumnya berdurasi kurang lebih 10 menit.

25. Gorontalo

Provinsi Gorontalo adalah provinsi hasil pemekaran di pulau Sulawesi. Tapi meskipun Gorontalo adalah provinsi baru Namun mereka juga memiliki banyak seni pertunjukan yang menarik seperti seni tari. Beberapa contoh seni tari khas Gorontalo yang populer diantaranya adalah:

a. Tari Dana-dana

Tari dana-dana adalah tari rakyat karena berasal dari masyarakat biasa. Tari dana-dana biasanya ditampilkan pada acara-acara rakyat atau pesta rakyat seperti perkawinan.

Nama tarian dana-dana berasal dari bahasa setempat yaitu “daya dayango” yang berarti menggerakkan semua anggota tubuh. Menurut sejarah, tarian Ini pertama kali diperkenalkan pada abad ke-14 yang digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Gorontalo.

Pertunjukan tari dana-dana selalu diiringi alat musik seperti rebana dan gambus. Pada awal-awal kemunculannya, tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena ajaran agama Islam tidak mengizinkan penari pria dan wanita tampil secara bersamaan. Namun di era modern, tari dana-dana mengalami sedikit perubahan sehingga bisa dibawakan oleh penari pria dan wanita secara berpasangan.

b. Tari Molapi Saronde

Tari Molapi Saronde atau yang lebih dikenal dengan sebutan tari Saronde adalah tari tradisional asal Gorontalo yang biasanya ditampilkan dalam acara tunangan dan pernikahan. 

Fungsi utama tari Saronde adalah sebagai sarana dalam tradisi Molihe Huali, yaitu tradisi “mengintip” (wajah) calon mempelai perempuan. Karena, pernikahan masyarakat Gorontalo pada zaman dulu sebagian besar adalah hasil perjodohan atau tanpa melalui proses pacaran maupun tunangan.

Gerakan khas tari saronde adalah gerakan ayunan tangan dan kaki ke depan sambil memutar selendang yang digunakan sebagai atribut saat menari.

c. Tari Tidi

Tari tidi adalah tarian klasik dari Gorontalo yang pada zaman dahulu ditampilkan di kalangan istana menyambut tamu dalam pernikahan raja-raja atau kaum bangsawan.

Tari tidi terbagi menjadi beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan fungsi atau tujuannya. Misalnya, tari tidi da’a yang dibawakan oleh calon pengantin putri pada saat akan menikah. Tujuan tarian ini adalah untuk memohon doa restu kedua orang tua dan memohon maaf atas semua kesalahan-kesalahannya kepada orang tua semasa remaja.

26. Sulawesi Barat

Suku asli yang mendiami daerah Sulawesi Barat cukup banyak. Suku Mandar adalah suku yang paling dominan. Beberapa suku lain adalah, Suku Makassar, Suku Toraja, hingga Suku Bugis.

Hingga saat ini, budaya tari tradisional di Sumatera Barat masih terus dilestarikan dan kerap dipentaskan di berbagai festival atau acara adat dan pertunjukan seni.

Ada beberapa tarian tradisional yang terkenal di daerah Sulawesi Barat. Salah satunya adalah tari bulu londong, yang berasal dari Mamasa, Sulawesi Barat. Tarian ini hanya dimainkan oleh penari pria dengan menggunakan pakaian dan senjata para prajurit di zaman dahulu.

Selain itu, ada juga tari patuddu, tari bamba manurung, tari bulu londong, tari sayyang pattudu, tari ma’bundu, tari toerang batu, tari mappande banua, tari motarotari patuddu, tari bamba manurung, tari bulu londong, tari sayyang pattudu, tari ma’bundu, tari toerang batu, tari mappande banua, hingga tari motaro

a. Tari Patuddu

Berdasarkan cerita rakyat Sulawesi Barat, dahulu tari patuddu digunakan untuk menyambut pasukan yang pulang dari medan perang. Perang yang dimaksud adalah pertempuran antara kerajaan Balanipa dan Passokkorang.

Di era modern, tari patuddu tidak lagi digunakan untuk menyambut prajurit, melainkan digunakan untuk menyambut tamu penting atau tamu kehormatan.

Tarian daerah Sulawesi Barat ini adalah tarian penyambutan asli suku Mandar. Jumlah penari tari patuddu terdiri atas 5 orang gadis atau anak remaja yang berbalut pakaian adat khas suku Mandar.

Gerakan tarian patuddu didominasi oleh gerakan kaki yang kadang melangkah perlahan dan kadang cepat mengikuti tempo irama, dengan tangan yang memainkan kipas dan selendang. 

b. Tari Bamba Manurung

Tidak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan tari bamba manurung. Meski demikian, tarian ini sudah ada sejak zaman dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi. Saat ini, tari bamba manurung masih bisa kita saksikan pada festival budaya di Mamuju atau upacara adat dan kerap juga ditampilkan di hadapan para ketua adat masyarakat serta masyarakat.

Tari bamba manurung adalah tarian tradisional daerah Sulawesi Barat yang berasal dari daerah Mamuju yang menjadi ibukota Sulawesi Barat.

Tarian ini menggambarkan keindahan dan keagungan budaya Mamuju melalui gerak tangan yang elegan dan kaki yang lincah serta gerak tubuh yang indah mengikuti irama musik.

Dalam pementasan tari bamba manurung, para penari pakan mengenakan baju bodo dan sejumlah aksesoris seperti kalung khas daerah, bunga melati yang disebut bunga beru, dan setia penari juga membawa kipas.

c. Tari Sayyang Pattudu

Tari sayyang pattudu adalah sejenis tradisi di kalangan suku Mandar pada saat ada pemuda yang mampu menghafalkan 30 juz Al-Quran.

Secara harfiah, kata “sayyang pattudu” bisa diartikan sebagai “kuda menari.” Hal ini disebabkan karena, pemuda yang sudah menghafalkan 30 juz Alquran akan diarak keliling kampung sambil menaiki kuda dan diiringi tabuhan musik rebana sembari membaca syair kalindaqdaq khas Mandar.

Saat ini, pertunjukan tradisi sayyang pattudu masih bisa kita saksikan di Desa Lero pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilangsungkan setiap 2 tahun sekali.

d. Tari Motaro

Suku Bare’e adalah salah satu suku yang ada di Sulawesi Barat. Masyarakat Suku Bare’e juga memiliki tarian penyambutan ksatria dari medan perang (mengayau) yang disebut tari motaro.

Namun saat ini, tarian ini tentu saja tidak digunakan untuk menyambut pahlawan suku melainkan digunakan untuk menyambut atau menjemput tamu istimewa atau agung.

Tari motaro termasuk tarian tunggal karena dimainkan oleh seorang penari wanita saja. Meski demikian, tarian ini juga bisa oleh 2 orang penari yang saling berlawanan arah pandang.

Dalam prakteknya, tari motaro dibawakan oleh penari wanita sambil memegang daun soi di tangan kiri dan memegang tombak atau senjata khas lainnya seperti pedang maupun parang di tangan kanan.

27. Sulawesi Tengah

Seni budaya di Sulawesi Tengah berkembang dengan cukup baik dari masa ke masa. Selain seni musik dan seni lukis serta seni ukir dan seni anyaman, di Sulawesi Tengah juga berkembang seni tari yang mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, kekayaan budaya, serta kehidupan masyarakat setempat.

Di Sulawesi Tengah sendiri terdapat beberapa suku seperti, Suku Kaili, Suku Tolaki, Suku Bungku, Suku Saluan, Suku Mori, dan suku-suku lainnya.

Setiap suku memiliki adat istiadat dan juga budaya yang berbeda-beda. Karena itulah kau tidak mengherankan apabila, di setiap suku ada tarian khas yang menjadi tarian tradisional daerah Sulawesi Tengah. Seperti misalnya,

a. Tari Pontanu

Tari pontanu merupakan tarian daerah Sulawesi Tengah yang aslinya berasal dari daerah Donggala yang dikenal sebagai salah satu penghasil kain (sarung) tenun.

Tari pontanu adalah tari yang dikreasikan berdasarkan gerakan para penenun. Dimulai dari gerakan membentangkan sarung Donggala oleh para penari yang mengenakan busana adat yang disebut nggembe.

b. Tari Dopalak

Jika tari pontanu adalah tarian yang menggambarkan aktivitas masyarakat Sulawesi Tengah yang sedang membuat kain tenun, maka tari dopalak adalah tarian yang menggambarkan kegiatan masyarakat mendulang emas.

Tarian ini biasanya dibawakan oleh 7 orang penari. Seorang penari akan berperan sebagai pemimpin yang disebut palima. Kemudian 6 penari sisanya akan berperan sebagai dayang.

Gerakan tari dopalak menyerupai gerakan mendulang emas yang masih bercampur pasir. Para penari biasanya mengenakan busana berupa baju lengan pendek berwarna cerah baik merah maupun kuning.

c. Tari Raigo

Tari raigo adalah tari tradisional yang dahulu digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur dan mengekspresikan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah.

Tari raigo sendiri menurut beberapa sumber berasal dari Suku Kulawi, Kaili, dan Bada. Dalam prakteknya, tarian ini dimainkan sambil melantunkan syair-syair yang berisi perasaan moral bagi masyarakat maupun pelaksana upacara adat.

Selain berbagai tari tradisional di atas, sebenarnya masih ada banyak tarian daerah Sulawesi Tengah yang masih dilestarikan hingga saat ini, seperti tari dero dan tari pamonte.

28. Sulawesi Utara

Sulawesi Utara yang punya julukan “Daerah Nyiur Melambai” sejak lama dikenal dengan seni dan budayanya yang menarik, seperti tarian maengket, tari manimbong,  makamberu (tari padi), merambak (tari naik rumah baru), hingga tari lalayaan (tari muda mudi).

a. Tari Maengket

Tari Maengket memiliki sejarah yang panjang sebagai tarian tradisional khas Sulawesi Utara. Dahulu, tarian yang berasal dari suku Minahasa ini hanya dipentaskan dalam upacara adat dan perayaan keagamaan seperti pernikahan serta panen raya. Di era modern, tarian maengket lebih banyak dipertunjukkan sebagai tari penyambutan atau pada festival budaya.

Tari maengket adalah sarana bagi masyarakat suku Minahasa untuk mengungkapan rasa syukur dan bahagia atas hasil panen yang melimpah.

Tarian ini menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Minahasa yang suka tolong-menolong dan bergotong royong.

Dalam pagelaran tari maengket, para penari akan bergerak secara halus dan lembut sebagai cerminan dari kesemimbangan dan keindahan alam. Saat perform, para penari akan menggunakan kostum berupa baju adat berwarna cerah yang kaya akan detail khas.

b. Tari Manimbong

Selain Suku Minahasa, Suku Toraja adalah suku lain yang mendiami Sulawesi Utara. Masyarakat adat Suku Toraja juga memiliki tarian tradisional yang terkenal, salah satunya adalah tari manimbong.

Tari manimbong biasanya ditampilkan pada upacara adat Rambu Tuka’ sebagai media untuk mengungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Tarian ini, umumnya dibawakan oleh laki-laki dan dipentaskan bersamaan dengan tari ma’dandan yang dibawakan oleh kaum wanita.

Ketika membawakan tarian manimbong, para penari akan membawa properti berupa parang kuno dan tameng yang bermotifkan corak khas Suku Toraja. 

29. Sulawesi Tenggara

Suku asli Sulawesi Tenggara seperti Tolaki, Buton, dan suku Muna memiliki peranan yang sangat besar dalam melestarikan warisan budaya, khususnya budaya tari tradisional.

Berbagai tari tradisional yang ada di Sulawesi Tenggara mengalami perkembangan dan banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur adat agama atau kepercayaan dan juga interaksi dengan budaya dari luar. Berikut adalah beberapa contoh tari tradisional asal Sulawesi Tenggara yang hingga saat ini masih bisa kita saksikan hingga kini.

a. Tari Umo’ara

Salah satu tarian asli Sulawesi Tenggara yang ikonik adalah tari umoara yang merupakan pertunjukan uji ketangkasan. Karena itulah, tarian ini bisa dikategorikan sebagai tarian perang.

Tarian ini dikategorikan sebagai tarian perang karena gerakan-gerakannya  mempertunjukan kemampuan untuk menguji ketangkasan bermain senjata taawu dan tameng yang disebut kinia. Pada zaman dahulu, tarian ini kerap digunakan untuk menyambut pahlawan yang kembali dari peperangan di kerajaan Mekongga dan Konawe.

b. Tari Malulo

Tari malulo adalah tari pergaulan yang berasal dari Suku Tolaki di Kendari. Sebagai tari pergaulan, tari malulo tentu saja akan dibawakan oleh remaja laki-laki dan perempuan. Gerakan tarian ini sangat dinamis sambil membentuk formasi melingkar atau berbaris berpasang-pasangan dengan bergandengan tangan.

c. Tari Mangaru

Tarian daerah Sulawesi Tenggara lainnya yang terkenal adalah tari mangaru yang berasal dari Desa Konde di Buton Utara. Tarian ini juga merupakan tarian perang karena menceritakan keberanian dua pria yang berlaga di medan perang.

Properti yang digunakan selama tarian adalah senjata keris. Tarian ini sendiri dilakukan dengan gerakan-gerakan yang tangkas sembari diiringi alunan musik bertempo cepat dari alat-alat musik seperti mbololo, kansi-kansi, dan kendang.

30. Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan yang beribukota di Makassar merupakan salah satu daerah di Indonesia yang perkembangan budaya tari tradisionalnya sangat kuat. Daerah ini banyak didiami oleh Suku Bugis, Toraja, dan juga Makassar. Dari suku-suku tersebut lahirlah berbagai budaya tari yang menarik dan atraktif. Bahkan, beberapa diantaranya masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda. Seperti,

a. Tari pajoge maradika & Tari pajoge maradika Nilanti

Tari pajoge maradika disebut juga tari bangsawan karena tarian ini pada zaman dahulu dibawakan oleh putri-putri bangsawan dan juga putri raja.

Tari pajoge maradika sendiri terdiri atas dua jenis tarian. Tarian yang pertama disebut tari pajoge maradika merupakan tarian yang memerankan sosok putra mahkota dan dibawakan oleh 6 orang penari yang terdiri atas seorang putri raja dan bangsawan. 

Sedangkan tarian kedua disebut pajoge maradika nilanti, adalah tarian yang mengiringi pelantikan raja. Tarian ini diiringi dengan musik tradisional berupa kakula, gamba, tawa, gimba, dan juga lalove.

b. Tari Salonreng

Tari Salonreng adalah tarian warisan leluhur masyarakat Makassar yang dianggap sakral dan hanya diadakan pada upacara ritual pemujaan arwah leluhur dan dewa.

Tari salonreng memiliki gerakan yang sangat sederhana dengan iringan musik tradisional seperti serunai dan gong sereta gendang.

Adapun para penarinya biasanya berasal dari masyarakat yang sudah dewasa dan sudah berkeluarga. Saat pertunjukan, para penari akan mengenakan baju bodo dan sarung sutra serta selendang sebagai properti tambahan.

c. Tari Pa’bitte Passapu

Tari pa’bitte passapu adalah salah satu tarian adat Sulawesi Selatan yang terdaftar sebagai warisan budaya tak benda.

Menurut beberapa sumber, Tari pa’bitte passapu merupakan tarian adat yang berasal dari Ammatoa Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Tarian ini sendiri menggambarkan kegiatan para bangsawan Makassar zaman dahulu yang gemar sabung ayam. Karena pada masa itu, sabung ayam dianggap sebagai ekspresi keberanian, samping sebagai arena untuk bertaruh.

Karena tarian ini terinspirasi dari acara sabung ayam, maka gerakan tari pa’bitte passapu juga menyerupai gerakan seseorang yang setengah menyabung ayam. Hanya saja, dalam tarian, ayam akan diganti dengan menggunakan passapu yaitu istilah setempat untuk menyebut “saputangan.”

d. Tari Sere Bissu Maggiri

Tari Sere Bissu Maggiri adalah tari klasik yang beraroma mistis, karena tarian ini pada awalnya digunakan untuk memanggil roh. Pada perkembangannya, tari Sere Bissu Maggiri kemudian digunakan sebagai tarian penyambutan tamu agung atau raja-raja di istana kerajaan Bone pada masa pemerintahan raja Bone pertama yang bergelar To Manurunge Ri Matajang.

Tarian ini sendiri khusus dibawakan oleh kaum pendeta yang disebut Bissu. Uniknya, oleh masyarakat adat Bugis di Sulawesi Selatan, para Bissu ini dipandang sebagai percampuran (gender) laki-laki dan perempuan. Pada prakteknya, Tari Sere Bissu Maggiri akan dibawakan oleh 12 orang Bissu yang akan menarikan 7 ragam gerak tarian beraura magis.

31. Maluku Utara

Tari Sajojo adalah salah satu tari yang sangat terkenal dari Maluku Utara. Setiap suku di Maluku Utara, seperti Suku Tobelo, Ternate, dan Suku Tidore, semuanya memiliki ciri khas tarian masing-masing yang mencerminkan sejarah dan kehidupan mereka.

Berikut adalah beberapa tarian daerah Maluku Utara yang terkenal dari berbagai suku yang mendiami daerah tersebut.

a. Tarian Kapita Uto Salawaku

Tarian Kapita Uto Salawaku adalah tarian khas Maluku Utara yang berasal dari tari tradisional Suku Tidore. Tarian ini adalah sebuah tarian perang yang diadopsi dari ritual masyarakat adat Kesultanan Tidore.

Kata “Kapita” pada nama tarian ini berarti kapiten atau panglima perang. Sedangkan kata “Uto Salawaku” adalah sebutan untuk ritual doa yang dilakukan oleh ketua adat untuk memohon perlindungan bagi seluruh bala tentara dan Sultan Tidore sebelum pasukan bergerak menuju ke medan perang.

b. Tari Salai Jin

Tari Salai Jin adalah tarian klasik yang digunakan untuk memanggil roh halus sebagai media penyembuhan orang sakit karena tarian ini dianggap memiliki nilai magis yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan bangsa jin.

Tarian yang juga merupakan ritual adat ini umumnya dibawakan oleh sejumlah penari wanita dengan mengenakan busana adat. Ciri khas gerakan tari salai jin identik dengan permainan kipas kecil yang digunakan sebagai atribut penari.

c. Tari Soya-Soya

Hampir setiap suku yang ada di berbagai daerah di Indonesia memiliki tarian perang. Tidak terkecuali masyarakat Ternate. Masyarakat Ternate memiliki salah satu tarian kebanggaan yang disebut tari soya-soya.

Tarian ini sendiri tercipta pada tahun 1500-an yang pada awalnya digunakan untuk membangkitkan semangat para punggawa Kesultanan Ternate saat akan menyerbu Benteng Benteng Kastela (Nostra Senora Del Rosario) yang diduduki oleh Portugis.

Gerakan tari soya-soya sangat identik dengan gerakan perang, dimana gerakan-gerakan yang dilakukan oleh penari menggambarkan situasi menyerang, berkelit, dan bertahan.

Dalam pementasan tarian soya-soya, para penari akan membentuk formasi berkelompok yang berisi 3 orang penari. Para penari akan mengenakan kostum berwarna putih dengan kain sambungan warna-warni serta ikat kepala kuning yang menjadi simbol seorang prajurit perang. Setiap penari akan membawa beberapa properti atau aksesoris seperti perisai yang disebut salawaku dan pedang bambu yang disebut “ngana-ngana” berhias daun palem berwarna merah, kuning, dan hijau.

32. Maluku

Maluku selain dikenal dengan penduduknya yang ramah, juga dikenal sebagai salah satu daerah dengan seni budaya yang tinggi. Seni budaya tari yang berkembang di Maluku sangat kaya akan warna dan memiliki ciri khas yang unik. Seperti yang bisa anda lihat pada beberapa tarian daerah Maluku berikut ini.

a. Tari Maku-Maku

Maluku memiliki banyak tarian daerah yang populer, salah satunya adalah tari maku-maku yang pada tahun 2023 silam memecahkan Rekor Muri sebagai pementasan tarian maku-maku dengan jumlah penari terbanyak.

Tari maku-maku sendiri merupakan tari pergaulan dari Maluku yang diciptakan untuk mempererat hubungan sosial antar masyarakat Maluku, dan juga melambangkan pergaulan anak-anak Maluku.

Diyakini, tari maku-maku ini merupakan tari warisan leluhur orang-orang Maluku yang berasal dari Nunusaku. Menurut kepercayaan masyarakat Maluku, Nunusaku merupakan (sebuah) tempat yang menjadi asal orang Maluku sebelum kemudian berpencar ke berbagai Pulau seperti Pulau Halmahera, Pulau Seram, Pulau Buru, Pulau Ambon, Pulau Ternate, Pulau Tidore, dll.

b. Tari Tide-Tide

Tari tide-tide adalah sebuah tari pergaulan yang berkembang di masyarakat Togela, Halmahera Utara. Tarian ini biasanya dipentaskan pada acara seperti pernikahan atau resepsi.

Bagi masyarakat Togela, tari Tide-Tide mengandung filosofi persatuan dan kerukunan dalam interaksi sosial. Ciri khas tari Tide-Tide dibawakan oleh 5 atau 6 pasangan penari baik anak-anak maupun orang dewasa yang menggunakan kostum berupa kemeja putih yang diyakini melambangkan kesucian dan celana hitam.

c. Tari Cakalele

Tari Cakalele adalah simbol keberanian serta martabat dan harga diri bagi masyarakat Hulaliu pada masa lampau. Kini, tari yang mengekspresikan suasana perang masyarakat Hulaliu ini lebih sering dipentaskan sebagai seni pertunjukan dan juga penyambutan tamu atau pada acara-acara perayaan adat.

Dalam pementasan Tari Cakalele biasanya dibawakan oleh sekelompok penari remaja laki-laki dan perempuan dengan iringan musik tradisional seperti bia dan juga musik-musik modern seperti flute maupun drum.

33. Papua Barat

Provinsi Papua Barat yang dikenal sebagai “Kota Injil” meliputi wilayah Fakfak, Kaimana, Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni, hingga Teluk Wondama.

Daerah ini dikenal memiliki pemandangan yang sangat terutama di wilayah Teluk Cendrawasih dan Teluk Wandamen serta Taman Wisata Alam Gunung Meja yang menjadi salah satu tujuan favorit untuk aktivitas hiking atau piknik keluarga.

Papua Barat juga dikenal sebagai “rumah” bagi beberapa tarian daerah yang khas dan unik seperti:

a. Tarian Wor dari suku Biak Numfor

Tarian wor yang berasal dari suku Biak Numfor merupakan tarian adat yang memiliki unsur-unsur seni dan budaya serta nyanyian dan upacara adat.

Bagi suku Biak Numfor, tarian wor adalah media untuk meminta berkah dari Tuhan. Karena itulah, tak salah apabila tarian ini didefinisikan sebagai upacara atau nyanyian adat.

Gerakan tari Wor sebenarnya sangat sederhana tapi tidak mudah untuk dipraktekan. Pasalnya, penari harus menggerakan kaki dengan lincah untuk membuat tubuhnya bergerak ke segala arah sambil melompat-lompat.

b. Tari Tumbuk Tanah

Tari Tumbu Tanah merupakan salah satu tarian khas daerah Papua yang sangat unik dan sangat menarik. Tarian ini sendiri dianggap sebagai jati diri masyarakat Arfak. Pasalnya, baik gerakan maupun formasi dan alat musik serta lagu pengiring yang digunakan, semuanya merupakan ciri khas masyarakat Arfak.

Tari Tumbu Tanah juga dikenal sebagai “tarian ular” karena para penari akan membentuk formasi seperti ular yang melilit pohon. Meski dijuluki tarian ular, namun tarian ini sendiri merupakan bentuk dari pujian masyarakat adat Arfak kepada roh leluhur.

Selain dianggap sebagai tarian pujian kepada roh leluhur, tari Tumbu Tanah juga dianggap sebagai simbol kebersamaan karena dalam praktiknya para penari akan bergandengan tangan saat menari.

34. Papua

Provinsi Papua yang sebelumnya bernama Irian Barat adalah sebuah provinsi yang menaungi 8 kabupaten, yang terdiri atas: Kabupaten Jayapura, Sarmi, Keerom, Mamberamo Raya, Waropen, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, dan Supiori.

Sejarah dan adat istiadat serta kehidupan sehari-hari masyarakat Papua, salah satunya bisa dilihat melalui budaya tari tradisional mereka. Karena banyak dari tari khas daerah Papua yang dianggap sebagai jati diri masyarakat Papua. Contohnya adalah,

a. Tari Suanggi

Tari suanggi adalah salah satu tarian adat yang kental dengan nuansa magis. Pasalnya, gerakan tari suanggi identik dengan gerakan orang berkekuatan magis (dukun) yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

Tarian suanggi sendiri berasal dari suku Asmat yang ada di pantai Teluk Cendrawasih. Tarian ini juga kerap digunakan untuk mengusir roh jahat.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Terciptanya tari suanggi berawal dari kisah seorang istri yang meninggal karena diserang oleh roh jahat (Suanggi) yang tidak tenang di alam baka. Roh ini dipercaya bisa merasuki tubuh wanita tersebut secara magis lalu mencelakakan wanita tersebut hingga mengalami kematian.

b. Tari Awaijale Rilejale

Jayapura yang menjadi ibukota Provinsi Papua juga memiliki tari tradisional. Salah satu tarian terkenal dari Suku Sentani yang berada di Jayapura adalah tarian awaijale rilejale.

Tarian ini merepresentasikan keindahan alam danau Sentani saat senja yang selalu ramai dipenuhi oleh warga yang akan pulang bekerja dengan menaiki perahu.

Tarian khas Papua ini umumnya dibawakan oleh sekelompok penari laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian adat Pea Malo. Pakaian adat ini terbuat dari kulit kayu dan serat pohon gnemon serta daun sagu dan dihiasi kalung manik-manik yang disebut hamboni.

35. Papua Tengah

Papua Tengah adalah provinsi yang alamnya sangat cantik serta kaya akan budaya seni yang memikat hati. Dari sekian banyak budaya seni yang berkembang di kalangan masyarakat Papua Tengah, seni budaya tari adalah diantaranya. Tarian-tarian tradisional masyarakat Papua Tengah sebagian besar tercipta sebagai gambaran kehidupan dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Berikut adalah contoh tarian khas daerah Papua Tengah yang terkenal.

a. Tari Saira (Balengan)

Tari Saira atau disebut juga Tari Balengan merupakan tari pergaulan yang berasal dari pantai Nabire (Papua). Tarian ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk menjalin keakraban antar muda-mudi.

Tarian ini memiliki gerakan yang melambangkan kegembiraan dengan iringan tifa yang dikenal sebagai salah satu alat musik khas papua.

b. Tari Seka

Tari Seka adalah tarian daerah Papua Tengah yang berasal dari Kabupaten Mimika. Tarian ini merupakan representasi dari ekspresi masyarakat dalam bersyukur kepada sang pencipta saat hasil panen melimpah.

Tapi selain digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur, tari seka juga kerap ditampilkan pada upacara pernikahan. Yaitu, pada prosesi pengantaran gadis kepada mempelai laki-laki sebelum pernikahan berlangsung. Saat ini, tari Seka lebih sering difungsikan sebagai tarian penyambutan tamu-tamu agung atau tamu-tamu penting.

Gerakan tari seka berfokus pada gerakan pinggul dan lambaian tangan serta hentakan kaki yang mengikuti irama tifa. Tarian seka juga melibatkan gerakan berputar atau sesekali membentuk formasi melingkar mengikuti komando dari pemimpin tarian.

36. Papua Pegunungan

Provinsi Papua pegunungan adalah satu-satunya provinsi di Pulau Papua yang tidak berbatasan langsung dengan laut. Di provinsi ini terdapat sekitar 7 kabupaten. Mulai dari, Kabupaten Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Yalimo, Lanny Jaya, hingga kabupaten Nduga.

Masyarakat yang mendiami Provinsi Papua pegunungan berasal dari suku Dani, Dem, Ndugwa, Ngalik, Ngalum, Nimbora, Pesekhem, Pyu, Una, Uria, Himanggona, Karfasia, Korapan, Timorini, Kupel, Wanam, Biksi, Momuna, Murop, Sela Sarmi, Nayak, Nduga, dan suku Yali.

Banyaknya jumlah suku bangsa yang mendiami Papua Pegunungan membuat provinsi ini kaya akan seni budaya, khususnya budaya tari. Berikut adalah 2 contoh tarian khas dari daerah Papua Pegunungan.

a. Tari Wisisi

Tari Wisisi adalah sebuah tarian pergaulan yang gerakan tarinya berpusat pada kaki. Tarian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa gembira dan sukacita. Pagelaran tarian Wisisi biasanya diiringi alat-alat musik sederhana. Namun di era modern, tarian ini seringkali iringi dengan musik modern.

b. Tarian Momuna

Tarian daerah Papua Pegunungan yang khas lainnya adalah tarian Momuna yang merupakan tarian tradisional dari masyarakat adat Momuna.

Tarian Momuna bisa dikategorikan sebagai tarian perang karena setiap gerakannya menggambarkan gerakan-gerakan yang identik dengan gerakan seorang prajurit perang.

37. Papua Selatan

Kabupaten Asmat, Boven Digoel, Mappi, Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Merauke, adalah beberapa kabupaten yang berada di Provinsi Papua Selatan. Di kabupaten ini, terdapat banyak suku bangsa seperti Suku Animha hingga Suku Asmat.

Mereka juga memiliki beberapa tarian khas atau tarian tradisional yang sangat unik. Beberapa diantaranya cukup populer dan sudah sering kita dengar, seperti:

a. Tari Gatzi

Tari gatzi merupakan tarian yang menyimbolkan kepatuhan terhadap adat dan budaya asli Merauke. Tarian tradisional yang berasal dari Suku Marind ini biasanya ditampilkan dengan gerakan yang penuh energi dan semangat serta mengalir indah dengan iringan alat musik tifa.

Siapapun, baik anak-anak maupun orang dewasa, atau laki-laki dan juga perempuan, semuanya boleh menarikan tarian Gatzi. Saat mementaskan tari Gatzi, para penari umumnya akan mengenakan pakaian yang terbuat dari lembaran daun sagu dan janur (daun kelapa muda).

b. Tari Tobe

Asmat merupakan suku terbesar di Papua yang masyarakatnya dikenal memiliki bakat seni ukir dan memahat kayu. Kemampuan seni ukir kayu yang dimiliki oleh masyarakat adat Asmat diperoleh secara turun-temurun. Tidak sembarangan mengukir, setiap ukiran biasanya dibuat berdasarkan latar belakang kisah yang menarik. Baik itu kisah kehidupan sehari-hari ataupun kisah-kisah para leluhur mereka.

Selain terkenal akan hasil ukiran kayunya yang unik, Suku Asmat juga dikenal memiliki banyak tarian adat yang menarik. Salah satunya adalah tari Tobe.

Tari Tobe merupakan tarian perang dari suku Asmat yang melambangkan kegagahan dan kepahlawanan. Tarian ini, pada zaman dahulu lebih sering digunakan untuk mengobarkan semangat juang masyarakat yang akan maju ke medan perang.

Saat ini, Tari Tobe masih sering dipentaskan dalam upacara adat masyarakat Asmat atau pada acara penyambutan tamu resmi. Tarian ini sendiri biasanya dibawakan oleh 16 orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan.

Selain memiliki gerakan yang khas, para penari tarian tobe juga akan mengenakan pakaian yang khas. Untuk penari laki-laki biasanya akan menari dengan mengenakan rok yang terbuat dari akar-akaran serta dedaunan dan mengenakan ikat kepala khas Papua sembari membawa senjata berupa tombak dan busur.

38. Papua Barat Daya

Siapa yang tak mengenal destinasi wisata Raja Ampat? Ya, ini adalah salah satu tujuan wisata eksklusif di Papua atau bahkan di Indonesia. Tapi, tahukah kalian, kalau Raja Ampat itu berada di Kabupaten Papua Barat Daya?

Namun selain, terkenal akan objek wisatanya yang indah, Papua Barat Daya juga menyimpan banyak pusaka kesenian yang memikat. Seperti tarian daerah yang berasal dari suku-suku yang mendiami wilayah Papua Barat Daya.

Tarian-tarian khas daerah Papua Barat Daya tidak hanya dikenal memiliki gerakan-gerakan yang khas dan unik, tapi juga indah, serta memiliki makna simbolis yang mendalam. Contohnya adalah 2 tarian daerah Provinsi Papua Barat Daya Berikut ini.

a. Tari Sajojo

Tari Sajojo merupakan tarian kreasi masyarakat Papua yang diperkirakan muncul pada tahun 90-an. Tarian tradisional Papua ini berasal dari Sorong. Sering dipentaskan dalam event budaya maupun acara adat serta festival rakyat sebagai hiburan.

Tari Sajojo dibawakan dengan gerakan yang bersemangat dan ceria karena ini adalah tarian pergaulan muda-mudi. Jadi, tidak heran apabila musik pengiringnya pun menggunakan lagu daerah Papua yang punya iramanya terdengar menyenangkan ditelinga.

b. Tari Aluyen

Berbeda dengan tari sajojo yang bertema keceriaan, tari aluyen merupakan tari tradisional yang dianggap sakral. Biasanya dipentaskan dalam upacara adat seperti pembangunan rumah baru atau pembukaan lahan pertanian baru.

Uniknya, tari Aluyen dapat dilakukan pada siang maupun malam hari. Pertunjukan tari aluyen bisa berlangsung cukup lama antara 1 hingga 2 bulan, khususnya jika diadakan di dalam sebuah rumah adat Papua.

Tari aluyen sendiri merupakan tari tradisional dari distrik Aimas yang ada di Kabupaten Sorong. Para penarinya bisa terdiri atas laki-laki dan wanita yang membentuk barisan memanjang ke belakang dengan 1 orang yang akan bertindak sebagai pemimpin tarian.

Penutup

Dari Sabang hingga Merauke, setiap provinsi di Indonesia memiliki tarian tradisional yang memikat, indah, dan memiliki nilai sejarah panjang yang mengagumkan. Banyaknya jumlah tarian tradisional di Indonesia ini tak lepas dari banyaknya jumlah suku bangsa yang mendiami negeri ini. Keberagaman tarian daerah ini sekaligus menjadi cerminan betapa Indonesia sangat kaya akan budaya dan sejarah.

Uniknya, setiap tarian daerah memiliki ciri khas kostum, gerak tari, filosofi, dan juga musik iringan yang berbeda-beda. Yang kesemuanya itu mencerminkan kedalaman makna dan identitas serta kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur bangsa ini dari generasi ke generasi.

Mengenal berbagai tarian daerah di 38 provinsi di Indonesia tidak hanya akan memperkaya wawasan kita mengenai kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Tapi lebih dari itu, ini adalah sarana untuk memperkokoh rasa nasionalisme, kebanggaan terhadap warisan budaya, dan meningkatkan sikap toleransi terhadap keberagaman masyarakat di tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lena

I'm in love with my website.  Still can't believe how gorgeous it looks and I was able to do it all by myself.  Your designs and customer support truly can not be beat.  Your awesome and I tell everyone I know looking for a site about your gorgeous themes.

Amanda

Holy Cow does my new site look AWESOME!  My traffic has doubled since going live and all my readers love the new site.  I get so many compliments on how pretty it is.  The best is that people think I spent a fortune to have it designed.

Anabelle

Thank you for everything you did to help me get my site up and running.  Being new to wordpress your video tutorials really helped.  Love that you provide support and that I can actually get in contact with you when I have questions.

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No feed found.

Please go to the Instagram Feed settings page to create a feed.

error: Content is protected !!