Top
Indonesian Blogger Community

Tarian Sumatera Barat

7 Tarian Sumatera Barat Terpopuler.

Setiap provinsi di Indonesia memiliki beberapa tarian tradisional atau yang disebut juga sebagai “tarian daerah.” Tidak terkecuali provinsi Sumatera Barat yang beribukota di Padang.

Tak hanya satu atau dua tarian, tarian daerah Sumatera Barat yang populer sebenarnya sangat banyak. Bahkan, beberapa diantaranya tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).

Tarian daerah Sumatera Barat terpopuler yang hingga saat ini masih bisa kita saksikan di berbagai festival (event) nasional maupun internasional tersebut akan kami ulas secara lengkap.

Mulai dari sejarahnya, gerakannya, musik pengiringnya, hingga filosofinya.

Mengingat, tarian tradisional daerah Sumatera Barat adalah replikasi dari kehidupan sosial, adat istiadat, dan juga nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Tarian Daerah Sumatera Barat

1. Tari Piring Sumatera Barat

Tari piring merupakan tarian daerah Sumatera Barat yang paling terkenal dan dianggap sebagai salah satu tarian daerah yang paling tua karena sudah ada sejak abad ke-12.

Tari piring adalah salah satu Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia. Konon, tarian ini berasal dari kota Solok.

Namun, tarian tradisional ini tidak hanya populer di daerah asalnya, melainkan, terkenal juga di berbagai daerah di Indonesia.

Pada awalnya, tari piring diciptakan sebagai media persembahan untuk memuja Dewi Sri yang oleh masyarakat pada zaman itu dianggap sebagai Dewi Padi atau Dewi Pertanian atau Dewi Kesuburan.

Dalam ritual pemujaan Dewi Sri, para penari akan membawa piring yang berisi berbagai macam sesaji sambil melangkahkan kaki secara teratur dan dinamis.

Setelah ajaran Islam berkembang di kalangan masyarakat Sumatera Barat, tari piring mengalami penyesuaian fungsi.

Pertunjukan tari piring, tak lagi diperuntukkan sebagai persembahan kepada Dewi Sri, melainkan sebagai persembahan untuk raja.

Para penari kesenian tari piring rata-rata dibawakan oleh wanita secara berpasang-pasangan ataupun berkelompok.

Gerakan tari piring adalah replikasi kegiatan bertani. Mulai dari, gambaran suasana pagi yang sejuk, gerakan mencangkul, gerakan menyiangi, hingga gerakan memanen padi.

Setidaknya ada 20 variasi gerakan yang terdapat pada tari piring khas Sumatera Barat.

Yang pertama adalah gerakan “Pasambahan” yang melambangkan bentuk syukur kepada Tuhan, kemudian diikuti dengan gerakan “Singanjuo Lalai” yang menggambarkan suasana pagi hari.

Lalu, ada gerak mencangkul, menyiangi, memagar, mencabut benih, melepas lelah, mengantar juadah, menyabit padi, mengambil padi, menggampo padi, mengangin-anginkan padi, mengirik padi, menumbuk padi, gotong royong, menampi padi, dan gerakan menginjak pecahan piring.

2. Tari Randai Sumatera Barat

Sebagai salah satu daerah yang memiliki ragam kesenian rakyat, Sumatera Barat sudah barang tentu sangat kaya akan budaya yang unik dan menarik.

Seperti tari randai yang merupakan gabungan dari seni tari, lagu, musik, silat, dan drama.

Tari randai merupakan kesenian khas Minangkabau berbentuk teater tradisional yang fungsinya kurang lebih sama dengan tari pasambahan.

Yakni, sebuah tarian yang dikemas untuk menyambut tamu kehormatan dan juga bisa dipertunjukkan dalam berbagai event seperti pesta rakyat ataupun upacara pernikahan.

Nama tari “randai” menurut beberapa sumber diambil dari kata “handai” atau “berandai” yang bisa berarti “obrolan yang hangat di suasana santai.”

Hal ini tergambar jelas dalam unsur pokok tari randai yang terdiri atas: unsur cerita, dialog, peran, galombangan, dan gurindam (syair).

Kesenian tari randai khas Sumatera Barat ini kerap dipentaskan untuk menyampaikan nasehat-nasehat melalui ragam cerita rakyat berbentuk gubahan syair atau gurindam yang didendangkan dengan tarian randai.

Gerakan tari randai identik dengan gerakan silat. Sebenarnya hal tersebut tidak begitu mengherankan, karena menurut Zulkifli (1993) di dalam jurnal berjudul “Randai Sebagai Teater Rakyat Minangkabau,” kesenian tari randai berasal dari salah satu perguruan silat di Sumatera Barat.

Meskipun demikian, ada juga yang meyakini bahwa tari randai berasal dari masyarakat Pariangan, Tanah Datar, yang mendendangkan tarian ini ketika berhasil menangkap seekor rusa.

Pertunjukan tari randai dilakukan secara berkelompok oleh 14-25 penari yang melakukan gerakan melingkar.

Di dalam lingkaran (tarian), akan ada seorang yang berperan sebagai pelatih silat atau paktua.

Paktua inilah yang akan menyampaikan nasihat-nasihat melalui cerita rakyat seperti Malin Kundang, Anggun Nan Tongga, Malin Deman, atau berbagai cerita rakyat lainnya.

3. Tari Pasambahan (Minang) Sumatera Barat

Tari pasambahan merupakan tarian tradisional khas Minang yang berfungsi sebagai tarian penyambutan untuk tamu yang dihormati.

Selain untuk menyambut tamu agung, tarian penyambutan ini juga kerap ditampilkan pada acara pernikahan masyarakat Minangkabau–yang dalam bahasa setempat disebut “alek urang minang.”

Makna tarian ini adalah wujud rasa hormat terhadap tamu yang berkunjung, serta wujud dari kebersihan hati dan niat yang tulus dari tuan rumah dalam menerima tamunya.

Kedatangan tamu yang disambut dengan tarian pasambahan akan dipayungi dengan menggunakan “payung kebesaran” sebagai bentuk penghormatan.

Lalu kemudian, acara akan dilanjutkan dengan menyuguhkan daun sirih yang dikemas pada  wadah (carano).

Pada pernikahan adat Minang, daun sirih akan disuguhkan kepada pengantin pria, meskipun tidak menutup kemungkinan juga akan diberikan kepada kedua orang tua pengantin.

Pertunjukan tari pasambahan dapat dibawakan oleh penari perempuan dan juga laki-laki.

Sama seperti tari randai, gerakan tari pasambahan juga mengandung unsur gerakan silat yang terdiri atas beberapa gerakan dasar.

Untuk penari laki-laki, gerakan-gerakan yang mereka lakukan diantaranya adalah gerak (tari) sambah, tagak, serta tagak itiak.

Sedangkan untuk penari perempuan akan melakukan gerakan siganjua lalai yang sifatnya lebih lembut dan halus.

4. Tari Toga Sumatera Barat

Tari toga adalah seni pertunjukan khas etnis Minangkabau yang berasal dari Siguntur Kabupaten Dharmasraya.

Lebih tepatnya, tarian ini merupakan tarian tradisional warisan Kerajaan Dharmasraya (Hindu-Budha).

Tarian ini, dahulu biasanya dipentaskan dalam penobatan raja (batagak gala) dan beberapa upacara adat Minangkabau lainnya seperti upacara mandi anak raja, perayaan kemenangan perang, gelanggang mencari jodoh putri raja, juga digelar pada pesta perkawinan keluarga kerajaan.

Secara etimologi, nama tarian “toga” berasal dari bahasa Siguntur yakni “togaan” yang berarti “larangan.”

Tarian daerah Sumatera Barat ini mengandung 3 unsur yaitu, tarian, dendang, dan musik.

Pada prakteknya, tari toga akan dibawakan oleh sejumlah penari yang berperan sebagai: seorang raja, hulubalang, dayang-dayang, dan juga terdakwa.

Pertunjukan tari toga melibatkan beberapa alat musik tradisional seperti gendang, momongan, kemong, canang, dan gong.

Kemudian untuk dendanya, biasanya menggunakan dendang Bujang Salamaik.

Selain dendang Bujang Salamaik, sebenarnya ada dendang Ameh yang juga sering digunakan untuk mengiringi tari toga.

Tapi sayang, bait syair dendang Ameh tidak lagi diketahui bagaimana bunyinya.

Sebagai informasi tambahan, tari toga dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) dari Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 silam.

5. Tari Ambek-Ambek (Koto Anau) Sumatera Barat

Tarian daerah Sumatera Barat terpopuler lainnya yang hingga saat ini masih bisa kita saksikan dan masih sering dipentaskan dalam berbagai event, termasuk Festival kesenian daerah, adalah tari ambek-ambek yang berasal dari kota Anau, Kabupaten Solok.

Menurut beberapa penuturan, tari ambek-ambek berasal dari permainan anak-anak di kota Anau selepas mengaji di surah atau musala. Karena selepas mengaji, anak-anak kerap bermain pura-pura bertarung.

Karena itulah, gerakan tari ambek-ambek identik dengan gerakan silat, dan selalu diiringi tabuhan musik tradisional seperti gendang dan talempong. 

6. Tari Indang Badindin Daerah Sumatera Barat

Tari indang badindin Sumatera Barat sering juga disebut sebagai “tarian indang” sesuai dengan nama alat musik yang mengiringi tarian ini, yaitu sebuah rebana kecil yang dalam bahasa setempat disebut “indang.”

Ada dugaan bahwa tari indang yang ada di Sumatera Barat pada awalnya diperkenalkan oleh ulama Islam dari wilayah Aceh.

Sepintas, gerakan tari indang sangat mirip dengan tari saman dari Aceh.

Yang membedakan antara tari indang dan tari saman hanyalah temponya saja. Di mana tari indang memiliki tempo yang lebih lambat dibandingkan dengan tari saman.

Gerakan tari indang didominasi gerakan jari dan tepukan tangan yang menjadi ciri khasnya.

Sedangkan syair lagu yang dibawakan umumnya mengandung berbagai cerita dan nilai-nilai moral bernafaskan Islam.

Begitu juga dengan fungsinya, tari indang ini digunakan untuk menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Pariaman, khususnya di Minangkabau.

Di era modern, tari indang tidak hanya digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam atau untuk memperingati hari-hari bersejarah dalam agama Islam, tapi juga digunakan sebagai sarana penyambutan tamu kehormatan, serta sebagai hiburan untuk rakyat.

7. Tari Rantak Sumatera Barat

Tari rantak merupakan tari kreasi baru dari daerah Sumatera Barat yang diciptakan oleh Gusmiati Suid sekitar tahun 1976.

Sebagai bentuk ekspresi atas ketidakpuasan Gusmiati Suid terhadap tarian daerah Minang yang dianggapnya terlalu gemulai.

Karena itulah, tari rantak identik dengan gerak tari yang dinamis serta atraktif.

Gerakan tari ini sendiri terinspirasi dari gerakan pencak silat. Pola lantai tari rantak mengadopsi gerak garis lurus dan garis lengkung yang kadang membentuk liku seperti huruf “U.” 

Pertunjukan tari rantak melibatkan penari laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian berwarna merah dengan hiasan benang emas dengan kombinasi bawahan berwarna cerah.

Gerak tari rantak terdiri atas 5 gerakan dasar yang memiliki filosofi khusus.

Gerakan pertama adalah sikap berdiri tegak yang mencerminkan aktivitas merenung sebelum melakukan tindakan.

Kemudian gerakan kedua adalah, ukua jo jangko yang bermakna penuh pertimbangan, gerakan ketiga disebut pandang kutiko yang bermakna adil dan bijaksana.

Lalu, gerakan ke-4 disebut gerak-gerik dan bermakna peka serta waspada. Sedangkan gerakan kelima adalah gerak raso pareso yang merupakan manifestasi dari pikiran yang sudah menyatu dengan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lena

I'm in love with my website.  Still can't believe how gorgeous it looks and I was able to do it all by myself.  Your designs and customer support truly can not be beat.  Your awesome and I tell everyone I know looking for a site about your gorgeous themes.

Amanda

Holy Cow does my new site look AWESOME!  My traffic has doubled since going live and all my readers love the new site.  I get so many compliments on how pretty it is.  The best is that people think I spent a fortune to have it designed.

Anabelle

Thank you for everything you did to help me get my site up and running.  Being new to wordpress your video tutorials really helped.  Love that you provide support and that I can actually get in contact with you when I have questions.

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No feed found.

Please go to the Instagram Feed settings page to create a feed.

error: Content is protected !!